Minggu, 13 Oktober 2024
Rabu, 25 September 2024
Tentang Syukur Bisa Menangis
Makin tambah usia, kupikir ada beberapa hal makin tampak: daripada marah, aku lebih banyak menangis. Jujur saja rasanya dari kecil, entah kenapa aku tidak terbiasa menangis.
"Menangis akan mengaburkan pikiran. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Menangis bukan solusi."
Benar. Itu semua benar. Sampai sekarang aku lebih dewasa pun, ucapan-ucapan itu ada benarnya.
Btw aku suka menonton film dan membaca cerita fiksi. Mungkin karena begitu jarangnya dulu aku nangis, dari SD sampai SMA, hanya ada dua tontonan dan cerita fiksi yang bisa membuatku menangis: film Korea My Mom dan anime Death Note saat si tokoh L mati. Film-film atau tontonan dengan cerita sedih atau mengharukan lainnya yang kutonton di masa-masa itu sama sekali tidak men-trigger emosiku. Di pergaulan, aku sadar aku mudah marah dan tidak dapat mengomunikasikan dengan baik kenapa aku tiba-tiba kesal dan marah. Mungkin memang aku punya anger management issue, tapi aku pun baru menyadari hal itu ternyata sebuah issue atau masalah ketika aku lulus SMA, ketika aku mulai lebih banyak membaca artikel dan informasi seputar psikologi dan kejiwaan.
Sejak lulus SMA, aku menyadari aku jauh lebih bisa menangis setelah menonton film Jepang yang berjudul The 100ᵗʰ Love with You. Tepatnya pada scene bahagia, aku menangis karena terharu. Awalnya aku tidak paham kenapa aku terharu, kenapa aku tiba-tiba menangis padahal dua pemeran utama film romance itu tampak lagi bahagia-bahagianya. Aku bingung, searching di internet karena takut itu suatu gejala penyakit kejiwaan. Ternyata bukan (ya emang agak self-diagnosed sih). Setelah itu, beberapa tahun kemudian sampai sekarang pun, aku sangat mudah menangis saat menonton film atau membaca cerita fiksi. Bukan hanya saat scene sedih, tapi juga senang. Bukan hanya saat scene senang saja, tapi juga saat merasa terlindungi, saat berpelukan. Aku jadi lebih suka cerita-cerita ringan dan menyentuh, daripada genre action atau thriller yang dulu sangat kugandrungi karena merasa 'wow keren tontonannya tidak menye-menye'.
Dua bulan lalu, usiaku bertambah lagi satu tahun. Makin tua, aku bersyukur punya keinginan menangis dan kemampuan menangis. Saat-saat tidak bisa menangis ketika ingin, rasanya tidak mudah. Bisa menyadari bahwa aku-butuh-menangis saja, alhamdulillah. Aku mampu merangkul emosi-emosiku dan mengendalikan amarahku dengan mengeluarkannya menjadi air mata dan setelah semuanya keluar, rasanya alhamdulillah ya Allah legaaa sekali. Memang, saat menangis, aku tidak bisa berpikir jernih, tidak menyelesaikan masalah, dan tidak memberi solusi. Namun, dengan menangis, aku bisa memahami bahwa tidak seharusnya aku melampiaskan amarahku begitu saja pada orang lain yang tidak bersalah. Sebelum menangis aku merasa pikiranku buntu, tapi setelah menangis, most of the time aku lelah dan lega. Kemudian, aku beristirahat dan akhirnya dapat kembali berpikir jernih, menyelesaikan masalah, dan mencari solusi.
Oiya, tentu saja menangisnya harus tahu waktu. Maksudku ya.. kemampuan menangis yang dibarengi kemampuan mengontrol emosi. Aku sendiri masih struggling untuk melakukannya dengan baik, tapi alhamdulillah it gets better over time I guess. Kalaupun belum selalu berjalan baik yaa memang it takes time, no?
Mungkin begitu coping menchanism-ku beberapa tahun terakhir: saat mau marah atau ngamuk karena lelah, kuambil jarak dari orang lain, mencari film sedih, lalu menangis sejadi-jadinya. Tentu saja aku menyebut nama Allah, istighfar, juga membaca Al-Qur'an. I did. I did them all as well. But sometimes it's not about labeling myself as a religious person or not; it's more about my own emotion and how I shouldn't let myself become numb. I'm only human after all. Of course I ask my God, Allah, to ease the pain, and I also have my own coping mechanism to continue living.
What about yours? I'd love to know your methods as well, you can comment down below.
Thank you for reading. See you in the next post, hopefully.
![]() |
| Source: @thetinywisdom |
Sabtu, 08 Juni 2024
Ketakutan Menghunjam Menjelang Pejam
Jumat, 05 April 2024
How Does It Feel to Enjoy A Good Food?
Rabu, 03 April 2024
How Does It Feel to Take A Breath Easily?
How Does It Feel to Be Kissed by The Sunshine?
Minggu, 10 September 2023
Daripada Menjijikkan, Urine Memberiku Pelajaran
Disclaimer: Postingan ini memuat cerita tentang urine yang cukup berkesan bagiku. Sudah kuusahakan semaksimal mungkin menggunakan kata-kata yang tidak membuat orang jijik membacanya. Jika kamu masih jijik juga dan keberatan membaca, silakan berhenti dan keluar dari halaman ini gapapa. Peace!
![]() |
| Awalnya ga enak sama orang rumah, jadi sosoan ngasih tulisan begini di depan kamar mandi :') |
Minggu lalu, aku dimintain tolong temenku, Risma, untuk bantuin penelitian temennya. Jadi, temennya Risma lagi ngumpulin urine manusia buat jadi bahan penelitiannya yang berhubungan dengan pupuk organik cair. Singkatnya, nanti urine itu mau dilihat efeknya buat tanaman. Awalnya, Risma yang dimintain tolong, tapi karena satu dan lain hal, Risma keberatan dan memintaku untuk menggantikannya. Aku bersedia dan tidak kusangka selama prosesnya, aku menyadari hal-hal penting yang perlu kucatat di sini.
Detail penelitiannya ada beberapa. Singkatnya, aku harus menampung dan memberikan urineku selama beberapa hari ke temennya Risma. Awalnya kupikir akan mudah saja karena aku pernah ikut mata kuliah praktikum yang salah satu bahan percobaannya itu urine sendiri. Aku merasa udah terbiasa ga jijik dan berpengalaman nampung urine sendiri. Selain itu, di rumah, Ibuku mendukung. Ibuku ga keberatan dan udah terbiasa juga karena katanya di puskesmas tempat Ibu kerja, pasien banyak yang nampung urine, dahak, bahkan fesesnya sendiri untuk tes kesehatan. Meski ada bukti pengalaman masa lalu dan dukungan Ibu, tanpa motivasi dari dalam diri sendiri, tetep aja pas mau mulai rasanya males. Tiap mau buang air kecil, keinget penelitian, keinget harus nampung urine. Karena belum terbiasa melakukannya terus menerus dalam waktu yang lama, aku merasa ribet.
Setelah mulai terbiasa nampung urine, suatu malam aku menyadari satu hal: aku masih bisa buang air kecil sendiri.
Mungkin karena malam itu aku agak desperate juga wkwkw jadi masih sensitif (sensitif yang bagus karena jadi mindful) hanya karena lagi buang air kecil. Padahal buang air kecil dari pagi juga biasa aja, tapi malam itu, entah kenapa kaya disadarkan kalau bisa buang air kecil sendiri itu hal sederhana yang sebenarnya anugerah besar dari Tuhan. Waktu menyadari aku bisa jongkok aja terharu :") Aku inget ketika habis kecelakaan dan ada luka basah di kakiku waktu itu, jongkok dan buang air kecil aja susah. Aku seperti diingatkan tubuhku sendiri untuk lebih mensyukuri kesehatan yang kupunya saat ini: bisa jalan sendiri ke kamar mandi, bisa jongkok tanpa rasa sakit, warna urine normal alias insyaallah ginjalku sehat, dan setelah buang air kecil aku bisa membersihkan sendiri. Harusnya aku bisa lebih menghargai nikmat itu dengan minum air putih sekitar 2 liter sehari, ga nahan-nahan kencing, makan makanan sehat dan teratur, olahraga rutin, juga termasuk ga begadang. Aku agak kesel kalau inget masih sering gagal buat tidur awal. Kalau dipikir-pikir, selama ini pasti tubuhku udah nahan sekuat tenaga biar tetap sehat meski pola tidurku berantakan. Aku jadi agak terharu sampai sekarang masih bisa buang air kecil dengan baik. Aku ga seharusnya melanggengkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sebenernya aku udah ngerti itu bisa ngerusak tubuh. Semoga penyakit udah-ngerti-buruk-tapi-masih-aja-dilakuin itu cepet sembuh.
Selanjutnya, kusadari bahwa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain bisa dimulai dari orang terdekat yang membutuhkan dan aksinya pun bisa jadi sangat sederhana. Buang air kecil aja bisa membawa manfaat buat penelitian orang lain. Asalkan ikhlas, ternyata ada aja berkahnya buatku sendiri, seperti bisa lebih bersyukur dan menuliskan cerita ini di sini. Mungkin kalau ga ikhlas alias sekadar melakukan sesuatu sebagai "people pleaser", jadinya malah capek sendiri dan ga bisa enjoy melakukannya.
Ga semua orang bisa menolak permintaan orang lain begitu saja. Sekalinya bisa menolak, perasaan bersalah muncul terlalu banyak. Namanya orang ga enakan, ga tega liat orang lain susah, tapi membiarkan diri sendiri kesusahan. Aku juga kadang ga enakan begitu karena takut dianggap ga baik atau mempersulit urusan orang lain.
Kalau dipikir-pikir lagi, apakah orang menjadi baik dengan selalu mengiyakan apapun? Dan apakah dengan mengiyakan apapun itu urusan orang lain sudah pasti lebih mudah? Ga juga, kan?
Menurutku, menolak permintaan orang lain karena diri sendiri keberatan melakukannya merupakan sikap menghormati dua pihak. Pertama, menghormati hak dan batasan diri sendiri. Kadangkala orang lain meminta tolong tanpa sebelumnya memahami hal-hal yang sedang kita lalui dan batasi, entah itu hal-hal yang bisa kita jelaskan ke orang lain maupun tidak. Berani menolak menunjukkan seseorang punya pendirian dan sikap tahu diri kalau sedang tidak bersedia menerima permintaan. Kedua, menghormati orang yang meminta bantuan. Lebih baik mana berurusan dengan orang yang sepenuh hati atau setengah hati dalam membantu pekerjaan kita? Bukan hanya tentang apakah pekerjaan akan lebih mudah dilakukan atau tidak, tapi hubungan kita dengan orang lain juga akan lebih mudah kalau orang yang dimintai bantuan itu melakukannya dengan sepenuh hati, kan?
Pada dasarnya, keberanian menolak permintaan orang lain juga tentang jujur pada diri sendiri dan orang tersebut. Aku percaya setiap kejujuran akan membawa keberkahan bagi orang yang melakukannya. Barangkali bagaimana aku bisa menjadi mindful dan menuliskan cerita ini juga tak lepas dari berkah kejujuran Risma untuk menolak permintaan temannya. Teruntuk Risma, kamu ga perlu merasa bersalah. Menolak permintaan orang lain ga menjadikanmu orang ga baik. Malah menurutku, seseorang yang berani jujur itu orang baik. Aku jadi keinget slogan antikorupsinya KPK: berani jujur hebat!
Pada akhirnya, pengalaman nampung urine sendiri ga buruk-buruk amat. Sebenernya kalau nampungnya rapi dan hati-hati, suasana rumah tetap aman terkendali. Jujur aku ga nyangka bisa menghayati pengalamanku nampung urine sedalam ini, dari mulai mengingatkanku tentang rasa syukur sampai keberanian menolak permintaan orang lain. Di paragraf terakhir ini, mari sedikit kita selipkan doa semoga penelitian temennya Risma berjalan lancar dan membawa manfaat untuk lebih banyak orang. Karena dari tahap pengumpulan urinenya aja, aku sebagai sumber bahan penelitiannya mengaku sudah merasakan manfaatnya :)
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2307
Rabu, 06 September 2023
Badminton, B-nya Bapak
![]() |
| Raket merah yang dulu dibeli Bapak, raket putih yang lagi putus senarnya, dan shuttlecock yang minimal masih bisa dipake main😂 |
Aku lumayan suka olahraga. Meski mainnya ga jago-jago banget, aku sebenernya seneng berolahraga. Salah satu olahraga yang bisa kumainkan adalah badminton. Barusan sore tadi aku main badminton dengan adekku yang berusia 5 tahun. Saat kulihat-lihat lagi raket merah yang ada di gambar di atas, aku jadi inget bapakku. Kusadari olahraga tepok bulu ini ternyata sangat menghubungkanku dengan Bapak bahkan sampai di hari-hari terakhir beliau di dunia ini.
Raket merah itu yang beli Bapak. Kata Ibu, dulu harganya mayan mahal, tapi emang awet sih. Ini udah 10 tahun lebih juga masih oke banget buat main. Bapak emang suka beli barang-barang yang mahal dikit gapapa, asal kualitasnya bagus. Mungkin karena hobi badminton juga, Bapak beli raket yang premium sekalian. Dulu waktu aku masih SD, aku pernah diajak nemenin Bapak badminton sama teman-teman beliau di GOR badminton. Saat itu aku udah bisa main badminton. Aku masih inget ternyata net badminton di GOR cukup tinggi untukku saat itu. Jadi waktu aku servis, yang penting bolanya udah ngelewati net, udah seneng wkwkw maklum, kebiasaan cuma main di depan rumah dan tanpa net. Kayanya saking seringnya raket merah itu dipake Bapak badminton, kain di grip atau pegangan raketnya udah berubah. Aku sempat tidak suka dengan raket merah itu. Bahan grip-nya yang kaya kain handuk itu bentuknya udah ga bagus: benang-benangnya panjang menjalar ke luar dan kalau ditarik gampang lepas. Waktu membawanya ke sekolah pas jam pelajaran olahraga, ga ada temenku yang grip raketnya seburuk milikku wkwkw insecure. Kalau sekarang, grip raket merah itu benangnya yang menjalar-jalar udah diguntingin jadi lebih rapi, tapi kebalikannya, hatiku yang sedang berantakan :')
September 2023 ini, China Open pertama tanpa Bapak.
Nonton badminton sekarang agak sedih. Dulu, biasanya nonton badminton di TV sambil ngobrolin atlet-atletnya sama Bapak. Di rumah, bisa dibilang aku cuma bisa "nge-hype" badminton sama Bapak soalnya Ibu dan adekku yang satu lagi ga ngikutin badminton. Bahkan di hari-hari terakhir Bapak, aku masih ngobrolin badminton sama beliau. Aku pernah nemenin Bapak di rumah sakit dan ngajak ngobrol tentang turnamennya Kevin Sanjaya saat itu. Padahal waktu itu kondisi Bapak udah gampang lupa akibat efek penyakitnya, tapi Bapak masih inget Kevin Sanjaya dan nyambung sama obrolanku. Entah sebenarnya beneran nyambung atau ga, pokonya Bapak manggut-manggut kaya mengerti. Yaa bisa dibilang, aku jarang ngobrol intens sama Bapak. Dari sekian banyak topik pembicaraan, badminton jadi salah satu topik yang bisa nyambungin aku sama Bapak. Jadi, punya kesempatan ngobrolin badminton sama Bapak itu udah termasuk ingatan menyenangkan dan tentunya sangat kurindukan.
Everything happens for a reason.
Aku gapapa. Meski grief dari kepergian Bapak beberapa kali bikin hal-hal sederhana terasa menyedihkan, sesimpel lihat raket merah di rumah ataupun nonton turnamen badminton di TV. Namun, sesedih apapun, pada akhirnya life must go on. Makin ke sini, hal-hal sederhana itu juga seperti lebih make sense dalam membentuk pribadiku saat ini. Barangkali masa-masa aku ga suka si raket merah dulu ada, biar sekarang aku ngerti bahwa value dari suatu barang bisa dilihat bukan dari penampilannya aja. Barangkali aku seneng badminton, biar bisa enjoy berlama-lama nemenin adek main di rumah. Barangkali Bapak udah pergi duluan, biar aku memahami bahwa kesempatan main badminton atau melakukan hal-hal sederhana apapun bersama orang-orang yang disayangi itu berharga, dan waktu terbaik melakukannya adalah saat ini, saat aku dan mereka semua masih bisa saling bertemu.
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2306
Kamis, 10 Agustus 2023
Maybe This is What "Thank You, Next" Means
The mood. The warmth. The realistic story. I've watched I Fell in Love Like A Flower Bouquet (2021) for several times. This film never failed to impress me. I couldn't say it is a film with good or bad ending. The main characters looked happy and content at the end. I'm happy for both of them, but also sad for the unexpected part. After watching it for the first time, I got mixed feeling. I was kinda overwhelmed. So that's why I write this out.
We used to love each other. We used to count on, talk to, smile to, meet with, and share affection with each other. We used to be lover. We used to be partner, fellow, companion, soulmate, and go-to person. We used to be together for a long time, but now we're running out of time. We grow to find out ourselves change, stop, and realize we're much different that we don't deserve each other. We are not the same as we were.
The gap. The change. The hug. They showed me that falling in love is beautiful moments in life, but the moments are nothing more than just a part of life. The other part is changes. Some changes create the gap. They grow older and know much better about reality of being an adult. Someone on the internet said they have economical gap, so that's why their thoughts become so different at the end. But it's not only about the money, but also their priority. They set new version of self priority to the point they realize their perspective has the gap. The gap they couldn't tolerate any longer as a couple. They see about love differently, they get emotional gap. At the time they realize they become different as they were, they realize they couldn't much longer stay together, they hug each other. Hug for the pain, the tears, and the memories. As part of life as well, life must go on. Life must go on with or without beautiful moments. By moving on, they actually just overcome the next part of their beautiful moments.
Saying good bye is not the hardest part, starting over without you is. But that's not impossible to happen. Living without you is pretty much possible. We were fine together back then and we are fine on our own now.
The grief of break up is not shown so much. But it doesn't mean there is no one hurts. They both just know what suit them better, who deserve them the best. They couldn't count on each other again and they accept that fact. Instead of forcing or waiting for better love to happen, they choose the separated way, place, and feeling. They just decide who's more meant to be with their own.
We had many similar interests, but since life seemed no more turning around work-film-fiction book-animation-repeat, we just figured out different essential meaning of happiness and living and love and peace and it turned out to be our ending, and that was fine. I fell in love like a flower bouquet. Exactly like a flower in bouquet, it just dried up in time, and that was fine.
Photos source: https://youtu.be/iDJ-ANwVsG4
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2305
Minggu, 30 Juli 2023
Patjarmerah Pertamaku
Festival kecil literasi dan pasar buku keliling nusantara.
Begitu kalimat yang sering kubaca ketika mencari tahu apa itu Patjarmerah. Aku pertama kali tahu acara itu bulan kemarin. Entah bagaimana juga baru kutahu event bergengsi yang ternyata aku nyaman berlama-lama di sana. Untukku yang baru berkunjung pertama kali, Patjarmerah bukan sekadar acara bazar buku murah semata.
Hari pertama Juli 2023 ini, aku pergi ke Patjarmerah Solo. Kenapa acara itu begitu berkesan untukku sebenarnya juga karena beberapa hal dalam kehidupan sehari-hariku waktu itu. Akhir Juni kemarin kurang berjalan baik. Entah kenapa juga bulan Juni rasanya berjalan sangat cepat. Aku masih ingat di akhir Juni itu, aku nyeletuk ingin ketemu langsung orang-orang yang kuidolakan selama ini di internet. Memikirkannya saja sudah bikin agak semangat. Mungkin dari sana, Allah mengabulkan keinginan spontanku itu.
Stefani Bella alias hujanmimpi, Kak Bella, atau Kak Bel. Penulis buku yang pertama kali kutahu sebagai penulis novel Elegi Renjana. Judul novelnya bagus menurutku, jadi nama penulisnya ikut nempel di otak. Jujur, sampai sekarang aku belum benar-benar membaca habis bukunya, tapi aku mengikuti akun-akun Kak Bel di Instagram, Twitter, Tumblr, maupun podcast-nya di Spotify. Aku senang membaca dan mendengar karya-karya Kak Bel di internet. Gaya penulisannya juga cocok dengan seleraku. Dua atau tiga kali gitu juga kalau ga salah, komenku pernah dibalas Kak Bel di Instagram, woww waktu itu senengnya bukan main. Aku tahu Kak Bel emang suka bales-balesin komen followers di internet, tapi kalau ngalamin sendiri tetep aja salting wkwkwkw. Intinyaa secara ga langsung karena sering ngikutin di dunia maya, aku juga ingin ketemu Kak Bella di dunia nyata. Long story short, pagi-pagi di akhir bulan kemarin, aku dapet info di story Instagram kalau Kak Bel mau ke Solo buat ngisi talkshow. Yaa aku jelas langsung semangat, apalagi acaranya gratis. Nah, ternyata talkshow itu adalah salah satu rangkaian acara Patjarmerah.
Patjarmerah tahun ini pertama kali diselenggarakan di kota yang sedang kutinggali, Solo. Waktu event-nya juga ga nanggung-nanggung, 9 hari berturut-turut. Setelah bikin akun di web Patjarmerah dan daftar talkshow-nya Kak Bel, aku baru tahu ternyata Patjarmerah ngadain juga banyak talkshow lain dan sesi kepenulisan, baik acara berbayar maupun gratis. Aku makin semangat waktu tahu banyak pembicara di acara Patjarmerah yang kukenal. Mungkin kamu juga tahu atau pernah dengar nama-nama, seperti penulis puisi Jokpin alias Joko Pinurbo, penulis dan kreator konten seputar KPop Alphi Sugoi alias Alphiandi, penulis dan aktivis isu perempuan dan anak Kalis Mardiasih, penulis dan kreator Mojok.co Agus Mulyadi, penulis novel dan AU (Alternative Universe) Reen alias R. Khoirotun, penulis buku Gadis Kretek Ratih Kumala, penulis dan kreator konten helobagas, penulis Syahid Muhammad, dan tentu saja lagi-lagi Stefani Bella. Bahkan walikota Solo Gibran Rakabuming sampai Raja Mangkunegaran KGPAA Mangkunegara X juga punya sesi acara sendiri di Patjarmerah. Ini acara gede (baca: bukan festival kecil, REAL) dan keren banget menurutku, tentu saja sponsornya juga banyak dan top. Ikut senang rasanya event literasi didukung banyak pihak. Sebagai penikmat buku dan event gratis sepertiku, tentu saja kusambut Patjarmerah Solo di awal bulan Juli kemarin dengan excited dan suka cita~
![]() |
| Dari kiri ke kanan: Kak Alphi, Kak Bella, dan Kak Alvin |
Aku datang di salah satu sesi talkshow hari pertama yang bertajuk "Idola, Korea, dan Karya". Awalnya, aku mendaftar hanya karena ingin ketemu Kak Bella. Namun, ternyata aku juga mendapatkan banyak insight menarik dari Kak Alphi dan Kak Alvin yang sepulang dari sana, aku makin bersyukur bisa ikut sesi ini.
Pertama, Kak Alvin. Di sesi talkshow yang kuikuti, selain sebagai KPoper generasi lama, Kak Alvin memberikan perspektif dari sisi penerbit buku. Beliau adalah direktur utama penerbit buku Naratama. Ada juga beberapa nama penerbitan lain di bawah naungan Kak Alvin, tapi di talkshow itu Kak Alvin lebih banyak cerita tentang penerbit Naratama yang telah menerbitkan buku-buku dari cerita AU. Bagiku, perspektif Kak Alvin sebagai penerbit terdengar fresh karena belum pernah kudengar sebelumnya. Jadi kata beliau, secara bisnis memang penerbit akan lebih mudah menerbitkan karya yang engagement-nya dari awal sudah besar, misalnya AU dari Twitter yang udah banyak like dan retweet. Ga bisa dipungkiri, engagement yang besar artinya banyak orang udah tahu ceritanya dan ketika sudah jadi buku, penerbit jadi lebih terbantu waktu pemasaran buku karena ceritanya udah rame duluan. Namun, ga semua karya yang rame itu bagus. Bisa jadi ketika mau diterbitkan jadi buku, ceritanya ga bisa dipertahanin atau susah diedit. Selain itu, Kak Alvin juga cerita kalau pernah ada penulisnya yang merasa bersalah dan khawatir karena merasa bukunya kurang banyak dikenal di masyarakat. Padahal ketika sebuah naskah sudah dibeli penerbit, sudah menjadi tugas penerbit untuk menerbitkan dan memasarkan buku tersebut. Penulis kalau mau ikut promosiin bukunya juga boleh banget. Namun, penerbit yang baik memang sudah seharusnya memberikan hak-hak penulis, termasuk mempromosikan buku dan tidak terlambat mengirimkan royalti buku kepada penulis.
Banyak juga yang dipikirin penerbit, begitu pikirku selepas mendengarkan Kak Alvin. Ternyata, banyak yang harus dilakukan hanya untuk mengantarkan sebuah judul buku sampai ke tangan pembaca. Ga serta merta perjalanan si buku itu berhenti setelah penulis merampungkan naskahnya. Meski aku juga sedikit mengerti tentang sedihnya hitung-hitungan uang penjualan buku di Indonesia biar bisa dibagi rata ke banyak pihak yang sudah terlibat. Intinya dari cerita Kak Alvin, aku jadi bisa lebih mengerti POV dari penerbit dan mengapresiasi sebuah buku original dengan lebih baik.
Kedua, Kak Alphi. Di talkshow ini, aku nangkepnya Kak Alphi lebih ke nge-encourage buat berani aja bikin apapun yang disuka selama itu ga merugikan orang lain. Apa yang disuka dibikin karya. Misalnya suka KPop, bisa coba bikin cover lagu, dance cover, video reaction, nulis AU, atau lainnya. Yaa meski memang kalau hobi pengennya dinikmati aja tanpa berkarya apa-apa, itu juga gapapa. Cuman kalau beneran pengen serius dan untung-untungnya bisa menghasilkan uang dari sana, bisa dicoba bikin karya dari hal sederhana yang disukai. Gausah takut dan malu kalau beneran pengen maju, ya, kan?
Kelihatannya gampang kalau denger motivasi berkarya kaya kata Kak Alphi. Makanya, itulah kenapa aku suka event-event semacam Patjarmerah ini. Niatnya cuma ketemu Kak Bel, tapi alhamdulillah dapet banyak hal positif lain ketika pulang. Orang-orang kok keren-keren banget ya, semoga bisa nyusul juga:")
Ketiga, Kak Bella. Kak Bel ngasih insight dari sisi seorang penulis buku. Kak Bel cerita kalau beliau punya lika-likunya sendiri, dari kena omelan di keluarga sampai di-bully. Bahkan pernah suatu waktu KPop "menyelamatkan" Kak Bel dari hal negatif yang dihadapinya. Aku melihatnya ya emang hal negatif harus diusahakan untuk dilawan. Bukan dilawan dengan hal negatif juga, tapi dibales dengan hal positif, dengan karya yang lebih berguna dari kata orang yang nge-hate. Buat apa dilawan? Sebenarnya buat kebaikan diri sendiri biar ga keterusan dapet input negatif dari luar. Sekalipun ga ada teman curhat atau segala macem yang bisa mendukung diri untuk bangkit, ya harus mau keluar cari zona baru. Misalnya, suka nulis ya coba nulis dan cari temen di platform-platform menulis, dulu Kak Bel juga awalnya nulis di Tumblr. Pokonya berusaha mengelilingi diri dengan orang-orang yang punya minat sama. Lagi-lagi juga diingetin, kalau emang punya karya yang ga merugikan orang lain, ya gas aja dilanjutin. Setiap karya punya penikmatnya sendiri. Setiap penulis punya pembacanya sendiri.
Sudah kuduga Kak Bel akan mengucapkan kalimat-kalimat quotable yang terdengar simpel, tapi nempel di kepala. Selepas talkshow, aku dapet kesempatan untuk ngobrol dan foto berdua sama Kak Bel. Waduh, sedekat itu sama orang yang pengen ditemui rasanya deg-degan yang membahagiakan. Beneran kaya beban di kepala itu otomatis mereda sejenak dan kesempatan masih hidup aja jadi sesuatu yang sangat-sangat disyukuri.
![]() |
| Dibolehin ngrangkul Kak Bel, grogiii :") |
Sekarang, bulan Juli udah mau berakhir. Aku bersyukur sekali awal bulan ini kumulai dengan sangat menyenangkan di Patjarmerah. Aku sangat berterima kasih buat penyelenggara, panitia, dan siapapun orang-orang yang terlibat di Patjarmerah Solo tahun ini. Aku udah ga sabar untuk dateng ke Patjarmerah lagi di tahun-tahun berikutnya. Semoga sampai kunjunganku ke Patjarmerah yang kedua, ketiga, dan seterusnya masih bisa bawa pulang cerita sangat baik dan menuliskannya seperti ini:) Panjang umur pekerja di bidang literasi Indonesia!
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2304
Kamis, 15 Juni 2023
Maybe This is What Stay True Means
![]() |
| Credit: trakt.tv |
I just finished watching Meet Me After School (2018), the drama I thought it would be kinda light to watch yet it turned out so complex. I set myself not to take sides with certain characters, but use pov of the third one: I watch this to gain my perspective, not to be influenced. I did. At least I did I guess. I am satisfied at the end, it has good-complicated-dramatic-realistic storyline.
The main moral value I got from this drama: stay true to yourself. Even it's not yet, you have to stay true at the end.
Lying to others is bad, lying to own self is worse.
The problem is sometimes in life, we don't know whether it is right or it is wrong. In some cases we need to figure out carefully at the first place. We (at least myself) won't forever survive on lying. I did tell lie, I regret it so much till now. I got traumautized I guess, it had no good to remember in the future. The wrong feeling, the unusual body response are the proofs that what I lied is never be forgotten (at least by myself). Anyway in terms of figuring out certain things in life, everyone needs to take time. But if we think we have time in forever, that is totally wrong. I realize in life there is limited time, but not everyone knows when exactly it is. Everyday we are just trying for the best as we can.
Some mistakes is obviously a crime. Other mistakes are not, but they could be planned to be crime.
We have norma, the world has normality standard that everyone agrees with. We simply just have to follow it. Don't feel so special or acting like fighting for it alone cause the universe is not rotating over you. Never know about the future means we need to take a good care of present. If we just simply think today problem is own self's problem, we never know which one problem is going to involve our closed ones. Remember why you started. Remember where you started. Remember for whom you started. For now I could say that everything is started from the closest family; the house I always go home to, the people I have to take care first after myself. They never want us to worry, so they would be the place we can rely on. We never want them to worry as well, so do the best as you can. You have them, your back is safe. So don't worry too much about your future. Keep being hopeful and holding on it. Hang in there.
If "I love you" sounds not too genuine, take action instead.
You already know there are five love languages, put efforts for the best as you can to other people and yourself of course. Sometimes put yourself first doesn't always work. Sometimes put others' happiness first works on your happiness better. You name it, you know it when the best time for that. Kill them with kindness, kill your bad thoughts with kindness. Be gentle, at the end you just try and don't force the universe to always work as you wish. You are not the center of universe, aren't you? You are just dealing with it, so bear with it.
Staying true to yourself maybe means taking your time to find out your truest self for certain moment.
Sometimes it could be true, it could be false, but we just go for a try most of the time. Mistakes may add trauma, but please use the power your present self has to get through it. You may think you are not that powerful, but at least remember what is left for now. No matter it is, either responsibility, confidence, hope, trust, faith, or beloved ones, don't forget that you have Allah. Allah is always here and there near you, watching you. You have the most important things in life, consider them to give you more reasons to stay true to yourself.
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2303
Sabtu, 13 Mei 2023
Dear Future Me, Remember Today
![]() |
| Surat dari Salma 15 tahun:') |
Dear you, who's reading this letter. Where are you and what are you doing now? For me who's 15 years old, there are seeds of worries I can't tell anyone. If it's a letter addressed to my future self, surely I can confide truly to myself.
-Angela Aki, "Letter: Greetings to A 15 Years Old" (bisa didengarkan di Spotify!)
Pernah kebayang ga bisa ngomong sama diri sendiri di masa depan? Dulu aku sempet ga kebayang, tapi jujur ternyata beneran bisa. Caranya lewat surat dan dengan bantuan teknologi.
Waktu aku masih SMP, aku nemu satu postingan di halaman Facebook yang ngasih info tentang website FutureMe. Katanya, itu website yang bisa ngirim surat ke masa depan via email. Teknisnya tinggal masukin alamat email tujuan, tulis suratnya, dan pilih berapa tahun kemudian suratnya akan sampai. Pilihannya banyak, bisa enam bulan, setahun, dua tahun, lima tahun kemudian, bahkan pengirim bisa mengatur spesifik ke tanggal yang diinginkan. Kalau suratnya udah terkirim, jangan lupa cek email buat konfirmasi pengiriman suratnya, biasanya nanti ada link yang harus dibuka. Yaa bisa dibilang FutureMe bisa bantu ngirim surat buat diri sendiri kalau tujuannya ke email sendiri, jadi kek bisa ngomong sama diri sendiri di masa depan. Meski ngomongnya searah sih, tapi website-nya beneran works dan worth it!
Surat pertama kutulis di FutureMe pada 1 April 2016 alias h-1 bulan Ujian Nasional (UN) SMP. Tujuan suratnya satu tahun kemudian. Waktu itu masih jamannya UN dan nilai UN dipake buat syarat masuk SMA. Aku nulis surat itu dengan niat supaya setahun kemudian, aku tetep inget gimana rasanya ngelewatin hari-hari menjelang UN SMP. Awalnya, aku ga berharap banyak sama FutureMe. Pengiriman suratnya ga dipungut biaya apapun alias gratisan dan namanya teknologi ada kemungkinan error, jadi aku ga terlalu berharap suratnya beneran sampai setahun kemudian. Nulis ya nulis aja, nothing to lose.
Setahun kemudian, 1 April 2017, aku dapet email yang judulnya:
"A letter from April 1st, 2016"
Suratnya beneran sampai! Lihat judul email aja seneng banget waktu itu. Rasanya kaya dapet kejutan dari sahabat pena karena selama setahun itu ga nunggu-nunggu suratnya sama sekali, bahkan udah agak lupa pernah ngirim surat. Setelah hasil percobaan pertama pake FutureMe yang sangat memuaskan, jadilah aku suka kirim-kirim surat lagi ke masa depan. Sampai tahun 2023 ini, aku udah tiga kali menerima surat dari diriku sendiri di masa lalu. Jarak paling jauh pengiriman dari 6 tahun lalu, suratnya tetep sampai dan masih gratis:) Kalau kalian mau coba sendiri, langsung aja ke website FutureMe sini!
Entah karena aku kebanyakan nonton film bertema time travel atau love language-ku words of affirmation atau gimana, menurutku nulis dan dapet surat itu menyenangkan. Suratnya bukan surat hukuman atau surat tentang kabar buruk lainnya, tapi surat personal tentang cerita maupun pesan-pesan baik yang ingin dijaga kenangannya.
Waktu pesantren kilat di sekolah, aku pernah denger guru bilang, "Menulis itu mengikat ilmu." Kalau konteksnya tentang surat menyurat personal ini bisa dibilang, "Menulis surat itu mengikat memori."
Aku sangat bersyukur mengalami hal baik di masa sekarang dan jika masih diberi kemampuan mengingat, sepertinya akan menyenangkan untuk membiarkan diri di masa depan turut merayakannya. Maka dari itu, aku menulis. Menulis surat untuk diri sendiri adalah salah satu caraku menjaga ingatan, both as treasure and reminder. Sering kuharap aku ga pernah mengalami amnesia. Memiliki memori baik dan masih mampu mengingatnya termasuk anugerah berharga. Namun, namanya manusia juga ada keterbatasan lupa. Setidaknya, tulisan bisa bantu mengingatkan, apalagi sekarang ada website seperti FutureMe. Selain itu, kalau boleh mengutip kata-kata Scholes, "Scribo ergo sum" yang artinya "Aku menulis, maka aku ada". Dengan menulis surat untuk masa depan, aku mengakui kenangan itu ada dan tetap menghargai keberadaannya untuk waktu yang lama.
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2302
#30hbc23dear
Jumat, 14 April 2023
Cosmic Perspective
![]() |
| Original photo credit: NASA |
Cosmic perspective ada bukan untuk mengecilkan atau menganggap semua masalah jadi ga penting.
You live here (on earth). On this tiny blue planet. Orbiting one of 100,000,000,000 stars in our galaxy which is just one of 200,000,000,000 galaxies in the observable universe. And yet, you're worried about what? What people think of you? You're stressing over school or your job? And listen, I don't mean to say that those things aren't stressful. They are. But sometimes you just need a little bit of cosmic perspective. We are tiny and only exist in this universe for a tiny slice of time, so make the most of it.
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2301
Kamis, 24 November 2022
Menjawab Tanda Tanya
"Aku ingin jadi apa ya?"
Adalah pertanyaan dari lisan seorang murid tingkat akhir.
Sabtu, 05 November 2022
Buffer, Si Paling Bertahan
![]() |
| 5/9 Mahasiswa Kelas Microteaching dan Ibu Dosen Maria Ulfa |
Mau kenyataan memberi kesan seasam atau sebasa apapun, bertahan; menyangga apapun yang disebut pengharapan. Berubah dikit ga masalah, biar jadi lebih baik kenapa tidak.
Bicara tentang bertahan, apa yang perlu ada untuk bisa bertahan hidup? Selain uang:")
Menurutku hal yang perlu dipunya untuk bertahan adalah harapan. Berharap untuk hal-hal baik, tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri. Harapan sederhana juga sudah bagus. Sesimpel berharap besok pengen sarapan sate padang, jadi harus semangat bangun pagi sebelum warungnya tutup.
Namanya hidup di dunia yang ga selalu menuai apa yang sudah ditanam dan ga selalu menerima apa yang sudah diberi. Hal apapun tetap ga baik kalau berlebihan, termasuk berharap. Harapan juga perlu dikontrol biar ga kecewa. Kalau di beberapa quotes katanya, "Jangan berekspektasi". Padahal sebenarnya punya ekspektasi juga ga selamanya buruk, cuma ya memang selalu ada 2 kemungkinan: berhasil dan gagal. Jadi, kudu siap kalau ekspektasinya ga kesampaian.
Maka tak perlu khawatir. Dirimu dalam penjagaan yang menciptakan seluruh alam. Sabar dan renggangkan pikiran, di dunia ini kita hanya bersiap.
Satu hal lagi yang menurutku perlu untuk bertahan adalah habit atau kebiasaan. Beberapa orang menyebutnya kedisiplinan, konsistensi, ada juga istiqomah. Sebenarnya ini tentang nasihat yang paling sering kudengar dari Ibu:
"Urip ki yo perkoro adus, mangan, turu, resik-resik, donga, sinau, nyenengke ati, nyenengke awak. Kudu seimbang ben kabeh iso mlaku." (Hidup ya tentang mandi, makan, tidur, bersih-bersih, berdoa, belajar, nyenengin hati, nyenengin badan. Harus seimbang biar semua bisa dijalani.)
Mengingat nasihat itu, hidup terdengar lebih sederhana. Kalau lagi capek sampai ga tahu harus bagaimana, mungkin waktunya ambil jeda. Melihat lagi masihkah kegiatan keseharian itu jadi kebiasaan baik. Kalau ngga, ya memperbaiki kembali satu per satu. Karena hidup bukan hanya tentang seberapa hebat pendapat di banyak rapat, seberapa banyak tugas laporan di pekerjaan, tapi tentang seberapa baik merawat badan dan menjaga kewarasan juga wujud bertahan.
Akhirnya, motivasi yang kusampaikan di microteaching waktu itu adalah tetap bertahan dan gigih belajar mencapai cita-cita selayaknya buffer mempertahankan pH. Sama halnya dengan kutipan-kutipan untuk bertahan hidup, kata-katanya sangat mudah diucapkan, tapi eksekusinya ga selalu demikian. Gapapa, memang ga semua hal mudah, yang penting bertahan dulu dan ga nyerah. Sisanya biar Tuhan yang menunjukkan.
Banyak hal di sekitar ternyata sedang saling menguatkan. Dari larutan buffer ada reminder tersendiri untuk bertahan. Cara bertahannya gimana, apa saja yang perlu ada, kembali ke masing-masing perorangan karena tiap orang bertahan untuk hal yang beda-beda. Namun, satu hal yang sama untuk bertahan hidup, seperti buffer dalam sampomu yang sedang menjaga pH-nya, semangat yaa!
Senin, 12 September 2022
Senang Bertemu Kembali, September
Disclaimer: postingan ini kutulis dengan niat buat sharing saja tanpa mengglorifikasi apapun.
10 September. Hari dimana dunia merayakan World Suicide Prevention Day (WSPD) atau Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia.
September 2020 jadi waktu pertama kali aku tahu bahwa dunia yang fana ini ternyata merayakan hari pencegahan bunuh diri. Itu pun kutahu dari pesan broadcast di WhatsApp tentang webinar yang diadain suatu komunitas bernama Youth Empowerment Indonesia. Setelah itu, tiap 10 September jadi penanda tahunan keduaku (setelah hari ulang tahun) bahwa alhamdulillah masih dikasih Allah kesempatan hidup.
Aku pernah merasa terlalu hopeless tentang hidup. Stres sih ada, tapi bukan stres baik karena bikin mikir buruk terlalu jauh. Jauhnya sampai mikir: gimana kalau meninggal aja. Dulu kukira itu cuma pemikiran sesaat, tapi ternyata "sesaat"-nya itu terjadi berulang kali. Tahu-tahu sudah dua tahun sering kepikiran begitu.
"Kamu kurang bersyukur."
Tiga kata. Sering aku dengar tiga kata itu, baik dari orang lain maupun kepala sendiri. Duh, yakin banget ya ngerti seberapa ga bersyukurnya orang lain. Padahal mengucapkan tiga kata itu pada kepala orang suicidal bukan ide bagus. Kupikir keputusan untuk tetap melanjutkan hidup sudah termasuk wujud bersyukur. Makanya, ketika di dalam kepala sedang setengah mati melawan pikiran buruk, lalu tiga kata itu tiba-tiba masuk, rasanya kontra. Meski niat hati jadi pengingat baik, tapi buat beberapa orang cukup judgemental juga.
Selain ucapan-ucapan judgemental, aku juga pernah termakan lirik lagu Lomba Sihir, grup musik yang kutahu karena di dalamnya ada Baskara Putra alias Hindia. Lagu yang kumaksud judulnya "Semua Orang Pernah Sakit Hati". Lagu itu sebenarnya bagus. Aku suka liriknya (coba dengerin juga!), kecuali satu larik:
"Semua orang pernah ingin mati."
Aku tidak menyalahkan larik itu maupun membenci Lomba Sihir. Sebenarnya aku mengerti larik di lagu itu konteksnya biar orang ga merasa menderita sendirian dan bangkit melanjutkan hidup meski dirinya sakit hati. Mungkin ada satu waktu kudengar lagu itu di masa mencari validasi atas emosi sendiri dan aku memercayai lariknya begitu saja, jadilah kukira menjadi suicidal itu normal. Padahal tidak.
Tidak semua orang ingin mati. Orang dengan pikiran bunuh diri bisa jadi membutuhkan pertolongan, termasuk pertolongan dari profesional.
Oktober 2021 akhirnya aku memutuskan untuk periksa ke psikiater. Itu jadi keputusan yang tak pernah kusesali. Prosesnya dimulai dari bicara terus terang ke Ibu, cari rujukan di puskesmas, sampai konsul dengan dokter di rumah sakit. Bersama perempuan yang tak lepas dengan kernyit dahi khasnya itu, dr. Ana, aku banyak bertanya dan ditanyai. Inti acara periksanya cuma ngobrol. Katanya itu namanya psikoterapi. Pulang periksa, aku mendapat pencerahan sampai bisa kepikiran Pengen Jadi Nukleofil.
Kalau ditanya, "Recommended ga konsul ke profesional?", jawabanku adalah iya.
Secara finansial, aku periksa dengan BPJS, jadi hanya membayar untuk biaya parkir rumah sakit. Secara personal, aku merasa jadi lebih mengenal diri sendiri, lebih tahu batas capek dan batas istirahat diri. Namun, yang perlu diingat juga adalah diagnosis di konsul pertama bisa jadi berubah. Sangat wajar untuk konsul lebih dari sekali. Seorang anxiety disorder survivor, Tenni Purwanti, di buku Butterfly Hug menulis bahwa ia baru benar-benar mendapat diagnosisnya setelah konsul ke psikolog selama 2 tahun.
Aku sendiri hanya 2 kali konsul. Hanya 2 kali karena keluhanku berkurang dan aku seperti sudah cukup bisa menghadapi hari-hari sendiri. Sekarang waktu rujukanku sudah habis dan aku masih bisa berpikir untuk terus hidup. Namun, aku tidak tahu apakah berhenti di konsul kedua itu langkah yang tepat. Kondisi mental orang berbeda-beda. Kalau suatu waktu kamu sendiri konsul, lebih baik pastikan langsung ke dokter atau psikologmu ya.
Ada satu hal lagi yang membuatku sadar bahwa proses periksa ini jadi keputusan yang baik. Belum lama ini, aku menemukan thread di Twitter dari seorang psikiater, dr. Andreas Kurniawan. Di thread itu, beliau membahas sedikit tentang buku Kamu Tidak Salah karya seorang psikiater juga, Jung Hyeshin. Ada satu cuplikan buku itu di thread yang menarik perhatianku:
![]() |
| Credit dan thread selengkapnya: @ndreamon |
Apapun yang kau idap atau menghantui, bukan halanganmu untuk kalahkan hari.
-RAN & Hindia, "Si Lemah"





