Rabu, 01 Desember 2021
Sabtu, 20 November 2021
Pengen Jadi Nukleofil
![]() |
| Mohon maaf, Ibu dosen matkul Stereokimia dan Mekanisme Reaksi Senyawa Organik, saya mengedit bahan pembelajaran sedemikian rupa untuk bahan postingan blog:) |
Tulisan ini dimulai setelah setengah malam tenggelam dalam kepala ribut lalu berbuntut suara batin yang berbunyi:
Pengen jadi nukleofil aja.
Nukleofil (nucleophile) dibentuk oleh kata "nucleo" dan "phile". Kata "nucleo" berasal dari "nukleus (nucleus)" yang merupakan spesi bermuatan positif. Kalau "phile" artinya pencinta, penyuka. Nukleofil itu zat kaya akan muatan negatif (elektron) yang suka menyerang zat bermuatan positif.
Simpelnya, nukleofil itu si negatif yang naksir sama si positif. Kenapa gitu? Biar doi stabil.
Nukleofil itu kebanyakan punya muatan negatif, makanya ga stabil. Nah, biar si nukleofil jadi lebih stabil, dia suka gabung sama zat lain yang bermuatan positif. Gabungan muatan negatif dan positif di reaksi kimia itu hasilnya adalah zat bermuatan netral yang lebih stabil. Kalau udah stabil, ga gampang dipengaruhi zat-zat lain. Istilahnya, zat stabil ke zat lain itu berlagak seperti 'maju lo, gue ga takut gue punya lengkap muatan positif negatif semua ada'.
Sebenernya "pengen jadi nukleofil" itu bukan keinginan secara harfiah, tapi secara maknawi yang kuresapi dua hari ini. Kemarin, seorang perempuan yang tak lepas dengan kernyit dahi khasnya itu berkata padaku kurang lebih begini:
Pikiran-pikiran negatif itu memang gampang banget masuk kepala. Sebaliknya, pikiran positif itu susah, jadi memang perlu usaha lebih biar bisa tetap berpikir positif.
Setelah itu, diucapkannya hal-hal tentang bersyukur, yaa seperti kebanyakan petuah yang pernah kudengar sebelumnya. Tanpa merasa dihakimi barang sedetik pun, aku menghayati pesan-pesannya sampai detik ini.
Penghayatanku itu sampai pada keinginan menjadi nukleofil.
Kenapa nukleofil? Karena ia kumaknai sebagai sebuah kepala yang banyak, penuh, dan sumpek dengan segala pikiran negatif, tetapi ia mau berusaha menyatu pada hal-hal positif. Ia kumaknai sebagai seorang diri yang tidak stabil yang berusaha stabil. Ia kumaknai sebagai sebuah sikap menjadi diri sendiri, tetap bersyukur, juga tidak menyerah pada keadaan.
Gampang ya dibacanya?
Aslinya sulit! Setidaknya untukku, tetap berpikir positif itu sulit, sulit setengah mati. Di sini, bukan berarti aku mengartikan bahwa punya emosi negatif itu buruk. Bagian ini cukup kujelaskan dengan dua quotes dari dua orang Asia-Amerika dari Korea Selatan. So firstly, as Jae said:
Be joyful, be sad, laugh, cry and live everyday to it's fullest. Let your emotions remind your mind that you are alive. -@eaJPark
Well, so it's okay not to always be positive, it's okay to accept negative emotions as human being. But still, negativity is negative. It shouldn't take control of mind forever and it's similar as he said:
We shouldn't let negativity break us down. We shouldn't let negativity become the main vibe that we have now. -Mark Lee
Jadi maksudku, mau sedang marah, sedih, kecewa, takut, cemas, atau merasakan emosi-emosi negatif lainnya itu gapapa, tapi bukan berarti itu dibiarkan mengambil kontrol diri begitu saja. Bukan. Emosi-emosi itu kadang datengnya ga bisa dikontrol, tapi cara merespon pada emosi-emosi itulah yang bisa diri kontrol, yaa meski memang ga gampang.
Kalau nukleofil bisa mensubstitusi bagian dirinya yang negatif menjadi versi dirinya yang lebih stabil, aku ingin bisa pula mensubstitusi pikiran negatif menjadi positif yang menjadikan emosiku lebih stabil, dengan meminta tolong bantuan orang lain pun tak apa. Kalau stabil kan enak, energi yang dipunya bisa lebih optimal dipake untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, pikiran juga lebih jernih. Mau ngerjain tugas jadi lebih fokus, mau ngapa-ngapain juga lebih tenang karena gejolak dalam dada maupun riak dalam kepala lebih tertata. Bahkan di situasi yang negatif pun, kalau stabil itu pikiran lebih mudah untuk present-oriented, bukan? Let me know what you think.
Intinya sehat lahir batin itu enak.
Akhirnya, dengan sedikit banyak perbedaan dari orang lain, rendah tinggi keinginan untuk jadi versi diri lain di hari esok, turun naik kestabilan dalam diri di tiap detik, semoga siapapun yang membaca ini dapat selalu menemukan cara paling baik, mensejahterakan, dan memenangkan diri dari segala yang negatif gimanapun caranya. Meski memang bukan sebagai nukleofil, tapi sebagai manusia biasa yang tetep mau "bangun" di waktu gagal maupun berhasil.
Aamiin.
#30haribercerita
#30hbc2112
Selasa, 12 Oktober 2021
Kepada yang Jauh dan Masih Bersauh
Aku ingin bicara denganmu, berdua saja. Sebenarnya tidak banyak hal yang ingin kubicarakan, hanya beberapa. Sebab, ya kau tahu, selama ini aku tak sebanyak itu melakukan hal yang seru untuk dibicarakan. Seru.. maksudku, seru yang menyenangkan. Dari dulu, aku tidak bermimpi banyak. Mimpiku beberapa, kutulis satu dua. Bukan tak punya percaya bahwa aku bisa, tapi dulu aku entah bagaimana memimpikan sesuatu saja sulit. Tak banyak yang kuinginkan.
Bisa lancar di sekolah, sudah. Alhamdulillah.
Kupilih membaca sebagai hobi. Sebab di buku-buku SD-ku tersirat bahwa orang-orang pintar hobi membaca. Lalu kutemukan diriku ketagihan buku bacaan. Namun, satu hal yang seharusnya aku yakini dari awal: aku tidak sepintar itu.
Pasti selalu ada yang lebih baik, sekuat apapun setiap waktu dilakukan yang terbaik. Itu yang kupercayai sekarang.
Aku tidak menyalahkanmu. Meski cara berpikirmu saat itu memang salah, aku tidak menyalahkanmu. Yang lalu salah biarlah salah, itu masamu. Sudah cukup kutahu apa yang jauh lebih benar untukku kini. Sisanya biar dikoreksi dia yang lebih tua. Dia yang mengemban ekspektasi "versi yang lebih baik" dari sebelumnya.
Oh, itu bukan ekspektasi. Itu sudah barang pasti buat ajar diri. Sebab katanya, orang di dunia itu pemelajar sejati. Namun, tak banyak diucapkannya bahwa pemelajar juga berarti pembuat salah sejati.
Kesalahan seperti apa? Tentu saja yang kumaksud bukan kesalahan pasti yang membuat satu dunia membenci tanpa ampun, seperti hal-hal yang sudah diatur konstitusi maupun yang belum ada regulasinya sebab perkara birokrasi.
Ya intinya kesalahan sederhana yang tak seharusnya melipatgandakan pikiran burukku dan burukmu ke depan. Kusebut sajalah ia: bangun siang.
Aduh, jujur saja aku sedikit iri denganmu.
Bagaimana bisa kau dulu pagi jam tujuh, sepeda sudah rusuh kau kayuh, berlari sampai berpeluh, mengulang hampir setiap harinya dengan menempuh total kilometer berpuluh-puluh??
Belum berhenti.
Bagaimana bisa pula kau dulu pagi jam lima, tiada tidur kedua setelahnya, mengambil urutan mandi pertama, bahkan belum tiba di sekolah pun buku matematika sudah kau baca??
Gila. Aku pengagummu paling setia. Meski bagi beberapa orang mungkin ini perihal bukan apa-apa, peduli apa. Barangkali memang seperti inilah caraku menghargaimu, menghargai cara bertahanmu dahulu. Ya, dahulu. Sebab mau seberapa baru kuulang-ulang rekaman ingatan tentangmu, hakikatnya kau sudah jauh dari waktuku kini berada.
Terima kasih kepada neuron lembut yang kuat-kuat terpaut dalam kepala. Olehnya, tentangmu aman dalam ingatan yang paling lama bertahan.
Pada akhirnya, iri memang bukan perkara baik. Sebaik-baiknya aku mengingatmu, banyak waktu aku berakhir mengerikan. Bagaimana tidak? Orang-orang di sekitarku tak jarang seketika takut padaku. Berpasang-pasang mata itu menafsirkanku dalam mode tak bisa diganggu, tak bisa disentuh, tak bisa diajak bicara. Memang benar adanya, orang-orang itu mengenalku. Begitulah acap kali entah bagaimana aku menaruhmu dalam kompetisi rupa-rupa dan lagi-lagi kau juaranya.
Kelelahan. Kepercayaan diri jadi reruntuhan. Ketakutan.
Barangkali itu sebabnya sekali sisi berani berapi-api, aku menulis. Aku mencatat bagaimana melewati satu dua cemas dengan puas. Itupun kau yang memulainya, kau yang membuat surat. Kau pikir akan bagus membantu hipokampus menaruh rapi impi-impi. Kau harap saat kubaca, dibakarnya pikiran negatif yang kurang ajar. Dan ya, itu bekerja. Meski tidak seberapa, tapi aku menikmatinya. Meski tidak seberapa, hal buruk tertunda karenanya.
Yang hidup di dunia yang lebih baik. Yang hidup dengan lebih baik di dunia. Semoga itu, dirimu.
Selamat ulang hari.
Selamat ulang minggu.
Selamat ulang bulan.
Selamat ulang tahun.
#30haribercerita
#30hbc2111
Senin, 30 Agustus 2021
Sebelum Tenang
Benaknya genap pengap tak terelak
Tiada sedesibel pun kata orang
Malam panjang disayang-sayang
Pagi datang mengulang elegi dari mati surinya motivasi
Siang, aduh, gaduh jauh
Tuntutan bersahutan parah
Keluh penuh bersauh pada gelisah
Di bulan-bulan tak bundar
Tak bundir saja sudah benar
Takut merenggut sempat sampai ciut
Rasanya tertinggal kereta paling dewasa
Bak kereta Seok Woo ke Busan
Tak lari jadi zombi kesepian
Satu per satu
Tenggat per tenggat
Tak sempurna asal selamat
Selasa, 24 Agustus 2021
Better Human Resources for Indonesia Emas 2045
What will you do if you get the opportunity to live on this earth for about 100 years? Well, 100 years sounds so far, but no matter what the future is going to be, we deserve to have a vision about it. Because dream matters. It also goes the same with Indonesia, our beloved nation.
This year in 2021, Indonesia is turning 76 years old. It has 24 years more to be a century of an independent nation in 2045. But since 6 years ago in 2015, Indonesia has created visions for 2045 that are called Indonesia Emas 2045. In order to achieve it, Indonesia has to reach about 5% annual economic growth on average. Indonesia needs a high quality of human resources for it and education is the key.
Like a dreamer should be, we also have to think of Indonesia Emas 2045 in a realistic way. No matter how great the vision is, we must overcome the challenge that happens at present. We know that now in 2021, Indonesia is still struggling to overcome Covid-19 pandemic. Covid-19 pandemic really affects the education system in Indonesia.
Huge transition from offline school to online school needs huge adaptation for every student, teacher, student’s family, and obviously the government. The whole nation must overcome it together. Yes together, but in different conditions. For some people, online school is not a big problem, but for others that UNICEF stated in December last year, there were 938 Indonesian children dropped out of school and 75% of them couldn’t continue their education.
That was so sad.
Those children dropped out of school mostly because their parents were economically impacted during Covid-19 pandemic. That was even sadder knowing that they had to work to help their family’s economic condition and others had to get married early. It is going to be so bad if Indonesian children lose their study spirit because of the situation. It cannot only affect their self-quality, but also the quality of Indonesian human resources in the future. Covid-19 pandemic is truly a challenge to achieve Indonesia Emas 2045.
Education is right for everyone. With education, someone can get a chance to improve their self-capacity. With better self-capacity, someone can have a proper job and improve their economic condition. Even on a national scale, with better self-capacity and economic condition, someone can be a good human resource that supports national economic growth like the vision of Indonesia Emas 2045.
But having family, friends, and surroundings that support someone to get proper education is such a big privilege. I understand for people that more tend to make money instead of studying for hours in front of the gadget. It makes sense because this pandemic really forces those people to survive in a hard way and make them prioritize saving their economic condition first to stay alive. But I feel so sad to know people let their children stop going to study when education is basically for the sake of children’s own good. I totally disagree with stereotype in Indonesian society that studying is not important. Ironically, this stereotype is getting worse during this Covid-19 pandemic. This stereotype shouldn’t continue in the next generation especially if we want to achieve Indonesia Emas 2045.
It is exactly not just some people's challenge, but also national challenge that is supposed to be solved by Indonesian as a whole. Well it’s not instant. It needs process and it simply can be started from ourselves, especially from youth who will potentially take the role of Indonesian leaders in 2045.
So what exactly can we do?
Look. Look at our close surroundings. Who needs help in studying? It may be neighbors, friends, family, siblings, or even our own self. We can help them in various ways. If you can teach, teach them. If you can donate, donate books, stationeries, or other studying stuff for them. If you have a group of people with the same goal in education, gather some ideas to help them get proper education. Or if you are the one who needs help in studying, don’t give up! Seek for information, find partner, tutor, or anything that may help you. Surround yourself with people that support you to improve your self-capacity. Because having high self-capacity is not only for your own good, but also for your family, society, even for Indonesia as a nation.
At the end, you don’t have to wait for getting the opportunity to live for 100 years to contribute to the nation, Indonesia. You can always start from your dream today, your dream matters. So good luck for anything good that we are struggling for. Indonesia Emas 2045 is waiting for us in the future to make it come true.
Thank you.