Waktu itu Januari 2026. Sepanjang ingatanku, awal tahun itu pekerjaan sudah sibuk seperti bulan-bulan sebelumnya. Di satu pekan, aku sangat bersyukur akhirnya mengantongi tiket film Perfect Days (2023). Film itu masuk ke beberapa nominasi Japan Academy Film Prize di tahun 2024 dan sejak saat itulah, aku mulai kepo dengan filmnya. Ketika tahu film itu masuk ke line up #KlikFilmMatinee dari @KlikFilm dan jadwalnya cocok, tentu saja aku sikat.

Lippo Plaza Jogja. Sun, 25.01.2026 - 10:30. REGULAR, CINEMA01. F14.

Aku memandangi keterangan pada tiket yang indah itu di aplikasi Cinépolis. Hari itu kunanti-nantikan sepanjang pekan yang padat merayap. Agenda yang mantap. Aku nonton sendiri, me-time, dan aku benar-benar serius untuk satu jadwal nonton di bioskop. 

Aku naik KRL pagi dari Solo dan tiba di Lippo Plaza sekitar jam setengah sepuluh pagi. Film tayang masih 1 jam lagi. Datang kepagian begitu rasanya aku seperti mau ikut ujian masuk perguruan tinggi wkwkw, belum pernah aku seambis itu untuk nonton film. Mal saja masih sepi. Lampu masih redup. Eskalator masih mati. Tidak ada suara musik, tidak berisik, semua tenang. Cuma ada sedikit orang: pegawai shift pagi toko kopi yang beberes sendirian, pegawai Miniso yang baru membuka rolling door toko, pegawai Concentrix yang sudah rapi dan berlalulalang. Ada banyak laki-laki sedang mengerjakan sesuatu juga, dan suara las; kelak kutahu ada semacam lomba modif di hari itu.

Mal baru kelihatan hidup sekitar pukul 10 pagi. Lampu-lampu toko sudah mulai menyala, tapi eskalator masih mati. Aku ikut menaiki eskalator mati itu bersama beberapa orang lain yang sama-sama menuju bioskop. Sesampainya di lantai tempat bioskop berada, ternyata sudah ada banyak orang, kontras dengan suasana lantai di bawahnya yang masih cukup tenang. Ruang Cinema01 yang kutempati bahkan hampir penuh terisi penonton. Tidak lama setelah aku duduk, lampu mati, lalu film diputar. Aku siap melupakan apapun sampai kurang lebih 2 jam selanjutnya. Saatnya fokus. Aku tidak mau menyia-nyiakan setiap menit film yang sudah kutunggu-tunggu.

Akhirnya, aku menonton Hirayama-san. Karakter yang diperankan Yakusho Kōji itu ialah seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai petugas bebersih toilet umum. Ia tinggal sendirian di sebuah apartemen sederhana. Yang kutonton awalnya rutinitas Hirayama-san saat pagi sebelum berangkat kerja, saat sedang kerja, sore setelah pulang kerja, malam menjelang tidur, juga kegiatannya di hari libur. Repetitif. Kehidupannya tampak sederhana. Ia menjalaninya dengan baik dan mantap. Ketika bekerja, ia tidak meremehkan tugas dan tanggung jawabnya. Hirayama-san tampak tenang dan nyaman dengan kehidupannya. Sampai di pertengahan film ditunjukkan bahwa ia punya masa lalu yang kurang menyenangkan dan permasalahannya sendiri. Meski begitu, ia selalu punya cara untuk melanjutkan kehidupan yang dirawatnya. Plot repetitif itu perlahan menjadi reflektif.

Perfect days. Hari-hari yang sempurna. Seperti apa hari-hari yang sempurna itu?

Menonton Hirayama-san membuatku melihat kembali kehidupanku sendiri. Aku juga punya rutinitas repetitif dari berangkat kerja sampai pulang lagi. Aku juga punya masalah-masalahku sendiri. Tampak sederhana, tapi aku paham betul kehidupan repetitif pun tidak selalu mudah. Yah, pada dasarnya kehidupan memang tidak mudah sih. Kadang yang menyebalkan dari rutinitas repetitif itu bukan bentuk kegiatannya, tapi tingkat stresnya. Banyak orang mengatakan untuk bersyukur dan jangan mengeluh. Beberapa yang lain menyampaikan tidak apa mengeluh, namanya juga manusia, bukan robot. Nasihat-nasihat itu sudah berputar ribuan kali di kepalaku. Namun, tetap saja, aku penasaran bagaimana Hirayama-san bisa tetap tenang saat bersedih sekalipun.

Menjelang akhir film, Hirayama-san bertemu satu per satu orang yang berkaitan dengan masalah-masalahnya. Ia tidak kabur. Ia menemuinya dan menanggapi pembicaraannya dengan tenang. Ada kalanya di malam hari, ia sedih dan menitikkan air mata setelah menghadapi hari yang panjang. Namun, pagi harinya ia tetap bangun, melakukan rutinitas paginya, dan pergi bekerja seperti biasa. Di akhir film, ketika suara Nina Simone yang menyanyikan lagu "Feeling Good" mengiringi Hirayama-san menyetir di pagi hari untuk berangkat kerja, perlahan ia menangis. Ia menangis dan tersenyum secara bersamaan. Aku pun ikut menangis, antara terpukau dengan acting & mimik wajahnya, makna filmnya, penempatan lagu dan liriknya juga sangat pas. Liriknya seperti ini:

Birds flying highYou know how I feel. Sun in the skyYou know how I feelBreeze driftin' on byYou know how I feel. It's a new dawn. It's a new day. It's a new life, for me. And I'm feeling good...

Lagu itu berputar dari awal sampai akhir. Mataku berkaca-kaca tepat di lirik bagian: "It's a new dawn. It's a new day. It's a new life, for me. And I'm feeling good..." . Saat itulah aku merasa paham makna filmnya. Sebenarnya aku kurang tahu juga maknanya benar atau salah, tapi untukku, saat menonton scene Hirayama-san menangis dan tersenyum secara bersamaan itu, aku melihat bagaimana Hirayama-san begitu menghayati kehidupan: kesenangan dan kesedihan yang datang bergantian, kenangan dan kerinduan masa lalu yang timbul tenggelam dalam ingatan, juga rutinitas yang mau tidak mau harus dilakukan. Aku jadi teringat sisi diriku yang sering cemas. Padahal bagaimana pun malam terasa berat dan panjang, pagi akan datang dan matahari menjadi terik kembali. Tuhan sudah mengatur semesta sedemikian rupa. Kesempatan baik akan menghampiri diri yang bertahan, maka tidak apa-apa tetap jalan sambil percaya, semua akan baik-baik saja.

Seburuk apapun hari kemarin, hidup harus terus berjalan di keesokan hari.

Saat istirahat makan siang, Hirayama-san punya hobi memotret komorebi. Setelah credit film selesai, ada tambahan definisi komorebi di akhir film.

Tulisan di layar: Komorebi is the Japanese word for the shimmering of light and shadows that is created by leaves swaying in the wind. It only exists once, at that moment.

Hirayama-san menyimpan kamera digital di sakunya saat bekerja dan mencetak foto-foto komorebi saat hari libur. Ah, sudahlah pribadinya tenang, pekerjaan lancar, kebutuhan pokok (pangan, sandang, & papan) aman, masih bisa menjalani hobi... rasa-rasanya seperti itukah wujud work-life balance itu? Lagipula di kehidupan nyata, and in this economy, apakah ada yang hidupnya seperti Hirayama-san? Setenang itu dalam kesederhanaan. Menurutku, ada banyak hal yang mempengaruhi Hirayama-san bisa tampak hidup tenang, tetapi tidak diceritakan secara detail dalam film. Mungkin saja dia sebenarnya sudah memiliki cukup banyak uang tabungan sehingga pendapatannya sebagai petugas bebersih toilet saja sudah cukup. Mungkin dia sengaja mengoleksi kaset lagu lawas di mobilnya sekaligus sebagai investasi di kemudian hari. Mungkin saja, tapi menurutku poin utama yang ingin disampaikan filmnya bukan itu.

Kebiasaan Hirayama-san mengingatkanku untuk tak apa memiliki kehidupan repetitif asal disiplin dan bertanggung jawab. Untuk menikmatinya, mungkin aku bisa menyempatkan untuk lebih pelan sejenak dan memperhatikan sekitar. Jalanan ramai dan macet yang menyebalkan, mungkin sebenarnya yang ramai dan macet adalah pikiranku sendiri. Pekerjaan yang rasanya tidak kunjung berakhir, mungkin sebenarnya yang belum berakhir adalah pergulatan batin sendiri. Fokusnya jadi terpecah, menghadapi apa-apa rasanya susah.

Ada scene di mana Hirayama-san menjawab pertanyaan keponakannya. Ia bilang, "Kondo wa kondo. Ima wa ima." Dua kalimat dalam bahasa Jepang itu kurang lebih artinya, "Nanti ya nanti. Sekarang ya sekarang."

Ada banyak hal indah di sekitar yang kadang tidak disadari dan sebenarnya bisa dinikmati dengan sederhana. Ada banyak hal hanya terjadi sementara, termasuk keruwetan hidup itu sendiri, maka tak apa untuk menyelesaikannya satu per satu. 

Pasar Kranggan lantai 2, Yogyakarta

Setelah nonton di Lippo Plaza, aku lanjut makan siang di Pasar Kranggan. Aku menemukan info tempat makan enak di Jogja itu dari Twitter dan wow.. suasananya mengingatkanku dengan Pasar Gede di Solo. Banyak penjual makanan yang berjejer rapi di lantai 2. Aku memilih makan siang di TFP Kopi Warung yang hampir tutup waktu itu karena menu-menunya sudah hampir habis.

Seporsi beef with mushroom sauce, mashed potatoes, dan salad yang porsinya kelihatan sedikit (untukku), tapi ternyata mengenyangkan! Enak bgt!! Mau lagi!!!

Menulis cerita ini sebetulnya cukup butuh waktu. Sebelum nonton Perfect Days, aku sering bertanya-tanya ke diri sendiri tentang ketenangan.

"Dalam hidup ini, apa sih yang dicari? Ketenangan. Tapi ketenangan seperti apa yang dicari? Ketenangan bentuknya seperti apa, ya? Orang meninggal saja masih terus didoakan supaya tenang." 

Seusai nonton Perfect Days pun aku masih sering menanyakan pertanyaan serupa. Sejak nonton itu, yang berubah dariku adalah aku jadi sering dengar lagu tahun sembilan puluhan seperti Hirayama-san (awalnya aku ga suka lagu-lagu lawas, tapi habis nonton Perfect Days tiba-tiba jadi enak banget di telinga wkwkw). Yah, jujur, sebelum nonton aku punya ekspektasi bahwa aku akan menemukan sedikit jawaban atas pertanyaanku dan menjadi orang yang lebih tenang. Namun, memahami makna peristiwa dalam hidup dan mencari formula ketenangan versiku sendiri ternyata tidak sesederhana meniru rutinitas Hirayama-san. Akhirnya, sambil menyelesaikan tulisan ini, kubuka-buka kembali tulisan lama dan menemukan tulisanku 6 tahun lalu. Membacanya kembali rasanya aku telah melupakan hal penting. Aku ternyata sudah bertanya-tanya sejak lama dan pernah menemukan jawabannya. Jawaban waktu itu ternyata masih relevan sampai sekarang.

Jawabannya tak ada dalam kutipan motivasi, lirik lagu, maupun narasi film. Jawabannya ada dalam hidup itu sendiri, ya mungkin begitulah cara-Nya mengajari lika liku hidup. Hidup yang berisi segala hal pasti pun tak pasti. 

("Ketika Lari dalam Maya", 2020)

Jadi sekarang, ya jalani yang sekarang. Kepentingan di masa depan juga perlu dipikirkan, tapi kalau sampai berlarut-larut dan urusan masa kini ikut berantakan, berarti waktunya ambil jeda. Teruntuk diriku sendiri, hari-hari damai seperti saat nonton Perfect Days ke Jogja waktu itu akan tiba lagi. Mungkin bukan sekarang waktunya, jadi sekarang ya fokus urusan sekarang dulu saja. Urusan nanti ya nanti, nanti juga bisa bahagia kok. Dijalani dulu sebaik-baiknya dan percaya sama timing dari Tuhan.

Perfect days. Hari-hari yang sempurna. Barangkali ia berupa hari-hari yang berjalan dengan baik maupun pelik, aman maupun merepotkan, juga hari-hari yang terasa begitu singkat maupun tak kunjung selesai. Barangkali hari-hari yang sempurna terbuat dari kompilasi hari yang berjalan tidak sempurna, tapi diri berhasil melewatinya dan masih bertahan melanjutkan kehidupan. Asal masih berusaha, hari yang sempurna menurut versi diri sendiri akan tiba. Namun, kalau hari itu rasanya tidak kunjung datang, semoga Tuhan selalu tunjukkan kemudahan kita menjalani hari yang sempurna menurut-Nya.