Kepada Heksa
Sudah lama aku tidak melihat langsung perangaimu di dunia nyata. Apa kabar? Semoga jiwa raga mendukung kebaikanmu. Tempo hari aku mulai jatuh cinta dengan tulisan-tulisan Rintik Sedu. Membacanya, aku teringat dengan Desember di hari itu. Hari dimana hari-hariku selanjutnya menjadi sering berjumpa denganmu. Sudah lama berada di tempat yang sama, tapi merasa belum pernah bersua. Setelah tanda-tanda suka menyapa, eh malah sering sekali berjumpa. Seakan begitulah semesta bekerja pada seorang gadis yang jatuh cinta. Meskipun, yaa aku tidak menganggapnya jatuh cinta saat itu, aku bilang aku mengagumimu. Aku mengagumimu sejak kali pertama membaca daftar murid baru di tahun itu. Nama yang ternyata mencampuri tumbuh kembang tulisanku sampai bertahun-tahun kemudian.
Sejak SD, aku gemar membaca novel, novel pinjaman dari perpustakaan daerah. Akhirnya, aku bercita-cita menjadi novelis. Aku terus menulis cerita pendek. Tidak serutin kata "terus" itu sih sebab banyak cerpen tak berujung akhir yang lurus. Niat hati gemar menulis cerita panjang, tangan malah terbiasa menulis beberapa bait perasaan, kusadari puisi rupanya. Aku jadi mencintai rima. Kamus bahasa Indonesia jadi sobat setia. Mulailah kutulis beberapa puisi atau barangkali sajak di tahun itu, untukmu Heksa. Tulisan yang kupikir bagus, kubuatlah rumah di situs pribadi ini.
Heksa, aku sangat berterima kasih untuk jumpa dan luka di waktu yang sama. Serangkaian patah tumbuh hati menjadi amunisiku menulis lagi dan lagi. Setidaknya, aku tahu jalan pulang menuju diksi yang lebih terus terang mengadu ini. Kini aku senang menyebutnya samudra. Menulis bagiku penenang kepala. Tenang, sejuk, tapi tetap bergerak agar tak karam dalam perasaan. Persis seperti kala aku berenang gaya dada tanpa tergesa, juga seperti kala kubaca buah-buah pena Rintik Sedu.
Heksa, aku sangat meminta maaf bila ada kata dalam budak-budak rasaku yang menyakitimu. Barangkali mereka memang menyuarakan luka, tapi aku sama sekali tidak ingin kau merasakan dera.
Heksa, dimanapun nanti kita bersua, pastikan aku menanyakan dulu kabarmu ya. Sebab, ya, sebenarnya bukan apa-apa. Hanya kadang perjumpaan kembali lebih memaklumi "apa kabar?" di balik rindu yang sudah terlampau besar.
Semoga kita segera berjumpa!
Salam,
Wong.