Minggu, 13 Oktober 2024
Rabu, 25 September 2024
Tentang Syukur Bisa Menangis
Makin tambah usia, kupikir ada beberapa hal makin tampak: daripada marah, aku lebih banyak menangis. Jujur saja rasanya dari kecil, entah kenapa aku tidak terbiasa menangis.
"Menangis akan mengaburkan pikiran. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Menangis bukan solusi."
Benar. Itu semua benar. Sampai sekarang aku lebih dewasa pun, ucapan-ucapan itu ada benarnya.
Btw aku suka menonton film dan membaca cerita fiksi. Mungkin karena begitu jarangnya dulu aku nangis, dari SD sampai SMA, hanya ada dua tontonan dan cerita fiksi yang bisa membuatku menangis: film Korea My Mom dan anime Death Note saat si tokoh L mati. Film-film atau tontonan dengan cerita sedih atau mengharukan lainnya yang kutonton di masa-masa itu sama sekali tidak men-trigger emosiku. Di pergaulan, aku sadar aku mudah marah dan tidak dapat mengomunikasikan dengan baik kenapa aku tiba-tiba kesal dan marah. Mungkin memang aku punya anger management issue, tapi aku pun baru menyadari hal itu ternyata sebuah issue atau masalah ketika aku lulus SMA, ketika aku mulai lebih banyak membaca artikel dan informasi seputar psikologi dan kejiwaan.
Sejak lulus SMA, aku menyadari aku jauh lebih bisa menangis setelah menonton film Jepang yang berjudul The 100ᵗʰ Love with You. Tepatnya pada scene bahagia, aku menangis karena terharu. Awalnya aku tidak paham kenapa aku terharu, kenapa aku tiba-tiba menangis padahal dua pemeran utama film romance itu tampak lagi bahagia-bahagianya. Aku bingung, searching di internet karena takut itu suatu gejala penyakit kejiwaan. Ternyata bukan (ya emang agak self-diagnosed sih). Setelah itu, beberapa tahun kemudian sampai sekarang pun, aku sangat mudah menangis saat menonton film atau membaca cerita fiksi. Bukan hanya saat scene sedih, tapi juga senang. Bukan hanya saat scene senang saja, tapi juga saat merasa terlindungi, saat berpelukan. Aku jadi lebih suka cerita-cerita ringan dan menyentuh, daripada genre action atau thriller yang dulu sangat kugandrungi karena merasa 'wow keren tontonannya tidak menye-menye'.
Dua bulan lalu, usiaku bertambah lagi satu tahun. Makin tua, aku bersyukur punya keinginan menangis dan kemampuan menangis. Saat-saat tidak bisa menangis ketika ingin, rasanya tidak mudah. Bisa menyadari bahwa aku-butuh-menangis saja, alhamdulillah. Aku mampu merangkul emosi-emosiku dan mengendalikan amarahku dengan mengeluarkannya menjadi air mata dan setelah semuanya keluar, rasanya alhamdulillah ya Allah legaaa sekali. Memang, saat menangis, aku tidak bisa berpikir jernih, tidak menyelesaikan masalah, dan tidak memberi solusi. Namun, dengan menangis, aku bisa memahami bahwa tidak seharusnya aku melampiaskan amarahku begitu saja pada orang lain yang tidak bersalah. Sebelum menangis aku merasa pikiranku buntu, tapi setelah menangis, most of the time aku lelah dan lega. Kemudian, aku beristirahat dan akhirnya dapat kembali berpikir jernih, menyelesaikan masalah, dan mencari solusi.
Oiya, tentu saja menangisnya harus tahu waktu. Maksudku ya.. kemampuan menangis yang dibarengi kemampuan mengontrol emosi. Aku sendiri masih struggling untuk melakukannya dengan baik, tapi alhamdulillah it gets better over time I guess. Kalaupun belum selalu berjalan baik yaa memang it takes time, no?
Mungkin begitu coping menchanism-ku beberapa tahun terakhir: saat mau marah atau ngamuk karena lelah, kuambil jarak dari orang lain, mencari film sedih, lalu menangis sejadi-jadinya. Tentu saja aku menyebut nama Allah, istighfar, juga membaca Al-Qur'an. I did. I did them all as well. But sometimes it's not about labeling myself as a religious person or not; it's more about my own emotion and how I shouldn't let myself become numb. I'm only human after all. Of course I ask my God, Allah, to ease the pain, and I also have my own coping mechanism to continue living.
What about yours? I'd love to know your methods as well, you can comment down below.
Thank you for reading. See you in the next post, hopefully.
![]() |
| Source: @thetinywisdom |
Sabtu, 08 Juni 2024
Ketakutan Menghunjam Menjelang Pejam
Jumat, 05 April 2024
How Does It Feel to Enjoy A Good Food?
Rabu, 03 April 2024
How Does It Feel to Take A Breath Easily?
How Does It Feel to Be Kissed by The Sunshine?
Minggu, 10 September 2023
Daripada Menjijikkan, Urine Memberiku Pelajaran
Disclaimer: Postingan ini memuat cerita tentang urine yang cukup berkesan bagiku. Sudah kuusahakan semaksimal mungkin menggunakan kata-kata yang tidak membuat orang jijik membacanya. Jika kamu masih jijik juga dan keberatan membaca, silakan berhenti dan keluar dari halaman ini gapapa. Peace!
![]() |
| Awalnya ga enak sama orang rumah, jadi sosoan ngasih tulisan begini di depan kamar mandi :') |
Minggu lalu, aku dimintain tolong temenku, Risma, untuk bantuin penelitian temennya. Jadi, temennya Risma lagi ngumpulin urine manusia buat jadi bahan penelitiannya yang berhubungan dengan pupuk organik cair. Singkatnya, nanti urine itu mau dilihat efeknya buat tanaman. Awalnya, Risma yang dimintain tolong, tapi karena satu dan lain hal, Risma keberatan dan memintaku untuk menggantikannya. Aku bersedia dan tidak kusangka selama prosesnya, aku menyadari hal-hal penting yang perlu kucatat di sini.
Detail penelitiannya ada beberapa. Singkatnya, aku harus menampung dan memberikan urineku selama beberapa hari ke temennya Risma. Awalnya kupikir akan mudah saja karena aku pernah ikut mata kuliah praktikum yang salah satu bahan percobaannya itu urine sendiri. Aku merasa udah terbiasa ga jijik dan berpengalaman nampung urine sendiri. Selain itu, di rumah, Ibuku mendukung. Ibuku ga keberatan dan udah terbiasa juga karena katanya di puskesmas tempat Ibu kerja, pasien banyak yang nampung urine, dahak, bahkan fesesnya sendiri untuk tes kesehatan. Meski ada bukti pengalaman masa lalu dan dukungan Ibu, tanpa motivasi dari dalam diri sendiri, tetep aja pas mau mulai rasanya males. Tiap mau buang air kecil, keinget penelitian, keinget harus nampung urine. Karena belum terbiasa melakukannya terus menerus dalam waktu yang lama, aku merasa ribet.
Setelah mulai terbiasa nampung urine, suatu malam aku menyadari satu hal: aku masih bisa buang air kecil sendiri.
Mungkin karena malam itu aku agak desperate juga wkwkw jadi masih sensitif (sensitif yang bagus karena jadi mindful) hanya karena lagi buang air kecil. Padahal buang air kecil dari pagi juga biasa aja, tapi malam itu, entah kenapa kaya disadarkan kalau bisa buang air kecil sendiri itu hal sederhana yang sebenarnya anugerah besar dari Tuhan. Waktu menyadari aku bisa jongkok aja terharu :") Aku inget ketika habis kecelakaan dan ada luka basah di kakiku waktu itu, jongkok dan buang air kecil aja susah. Aku seperti diingatkan tubuhku sendiri untuk lebih mensyukuri kesehatan yang kupunya saat ini: bisa jalan sendiri ke kamar mandi, bisa jongkok tanpa rasa sakit, warna urine normal alias insyaallah ginjalku sehat, dan setelah buang air kecil aku bisa membersihkan sendiri. Harusnya aku bisa lebih menghargai nikmat itu dengan minum air putih sekitar 2 liter sehari, ga nahan-nahan kencing, makan makanan sehat dan teratur, olahraga rutin, juga termasuk ga begadang. Aku agak kesel kalau inget masih sering gagal buat tidur awal. Kalau dipikir-pikir, selama ini pasti tubuhku udah nahan sekuat tenaga biar tetap sehat meski pola tidurku berantakan. Aku jadi agak terharu sampai sekarang masih bisa buang air kecil dengan baik. Aku ga seharusnya melanggengkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sebenernya aku udah ngerti itu bisa ngerusak tubuh. Semoga penyakit udah-ngerti-buruk-tapi-masih-aja-dilakuin itu cepet sembuh.
Selanjutnya, kusadari bahwa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain bisa dimulai dari orang terdekat yang membutuhkan dan aksinya pun bisa jadi sangat sederhana. Buang air kecil aja bisa membawa manfaat buat penelitian orang lain. Asalkan ikhlas, ternyata ada aja berkahnya buatku sendiri, seperti bisa lebih bersyukur dan menuliskan cerita ini di sini. Mungkin kalau ga ikhlas alias sekadar melakukan sesuatu sebagai "people pleaser", jadinya malah capek sendiri dan ga bisa enjoy melakukannya.
Ga semua orang bisa menolak permintaan orang lain begitu saja. Sekalinya bisa menolak, perasaan bersalah muncul terlalu banyak. Namanya orang ga enakan, ga tega liat orang lain susah, tapi membiarkan diri sendiri kesusahan. Aku juga kadang ga enakan begitu karena takut dianggap ga baik atau mempersulit urusan orang lain.
Kalau dipikir-pikir lagi, apakah orang menjadi baik dengan selalu mengiyakan apapun? Dan apakah dengan mengiyakan apapun itu urusan orang lain sudah pasti lebih mudah? Ga juga, kan?
Menurutku, menolak permintaan orang lain karena diri sendiri keberatan melakukannya merupakan sikap menghormati dua pihak. Pertama, menghormati hak dan batasan diri sendiri. Kadangkala orang lain meminta tolong tanpa sebelumnya memahami hal-hal yang sedang kita lalui dan batasi, entah itu hal-hal yang bisa kita jelaskan ke orang lain maupun tidak. Berani menolak menunjukkan seseorang punya pendirian dan sikap tahu diri kalau sedang tidak bersedia menerima permintaan. Kedua, menghormati orang yang meminta bantuan. Lebih baik mana berurusan dengan orang yang sepenuh hati atau setengah hati dalam membantu pekerjaan kita? Bukan hanya tentang apakah pekerjaan akan lebih mudah dilakukan atau tidak, tapi hubungan kita dengan orang lain juga akan lebih mudah kalau orang yang dimintai bantuan itu melakukannya dengan sepenuh hati, kan?
Pada dasarnya, keberanian menolak permintaan orang lain juga tentang jujur pada diri sendiri dan orang tersebut. Aku percaya setiap kejujuran akan membawa keberkahan bagi orang yang melakukannya. Barangkali bagaimana aku bisa menjadi mindful dan menuliskan cerita ini juga tak lepas dari berkah kejujuran Risma untuk menolak permintaan temannya. Teruntuk Risma, kamu ga perlu merasa bersalah. Menolak permintaan orang lain ga menjadikanmu orang ga baik. Malah menurutku, seseorang yang berani jujur itu orang baik. Aku jadi keinget slogan antikorupsinya KPK: berani jujur hebat!
Pada akhirnya, pengalaman nampung urine sendiri ga buruk-buruk amat. Sebenernya kalau nampungnya rapi dan hati-hati, suasana rumah tetap aman terkendali. Jujur aku ga nyangka bisa menghayati pengalamanku nampung urine sedalam ini, dari mulai mengingatkanku tentang rasa syukur sampai keberanian menolak permintaan orang lain. Di paragraf terakhir ini, mari sedikit kita selipkan doa semoga penelitian temennya Risma berjalan lancar dan membawa manfaat untuk lebih banyak orang. Karena dari tahap pengumpulan urinenya aja, aku sebagai sumber bahan penelitiannya mengaku sudah merasakan manfaatnya :)
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2307
Rabu, 06 September 2023
Badminton, B-nya Bapak
![]() |
| Raket merah yang dulu dibeli Bapak, raket putih yang lagi putus senarnya, dan shuttlecock yang minimal masih bisa dipake main😂 |
Aku lumayan suka olahraga. Meski mainnya ga jago-jago banget, aku sebenernya seneng berolahraga. Salah satu olahraga yang bisa kumainkan adalah badminton. Barusan sore tadi aku main badminton dengan adekku yang berusia 5 tahun. Saat kulihat-lihat lagi raket merah yang ada di gambar di atas, aku jadi inget bapakku. Kusadari olahraga tepok bulu ini ternyata sangat menghubungkanku dengan Bapak bahkan sampai di hari-hari terakhir beliau di dunia ini.
Raket merah itu yang beli Bapak. Kata Ibu, dulu harganya mayan mahal, tapi emang awet sih. Ini udah 10 tahun lebih juga masih oke banget buat main. Bapak emang suka beli barang-barang yang mahal dikit gapapa, asal kualitasnya bagus. Mungkin karena hobi badminton juga, Bapak beli raket yang premium sekalian. Dulu waktu aku masih SD, aku pernah diajak nemenin Bapak badminton sama teman-teman beliau di GOR badminton. Saat itu aku udah bisa main badminton. Aku masih inget ternyata net badminton di GOR cukup tinggi untukku saat itu. Jadi waktu aku servis, yang penting bolanya udah ngelewati net, udah seneng wkwkw maklum, kebiasaan cuma main di depan rumah dan tanpa net. Kayanya saking seringnya raket merah itu dipake Bapak badminton, kain di grip atau pegangan raketnya udah berubah. Aku sempat tidak suka dengan raket merah itu. Bahan grip-nya yang kaya kain handuk itu bentuknya udah ga bagus: benang-benangnya panjang menjalar ke luar dan kalau ditarik gampang lepas. Waktu membawanya ke sekolah pas jam pelajaran olahraga, ga ada temenku yang grip raketnya seburuk milikku wkwkw insecure. Kalau sekarang, grip raket merah itu benangnya yang menjalar-jalar udah diguntingin jadi lebih rapi, tapi kebalikannya, hatiku yang sedang berantakan :')
September 2023 ini, China Open pertama tanpa Bapak.
Nonton badminton sekarang agak sedih. Dulu, biasanya nonton badminton di TV sambil ngobrolin atlet-atletnya sama Bapak. Di rumah, bisa dibilang aku cuma bisa "nge-hype" badminton sama Bapak soalnya Ibu dan adekku yang satu lagi ga ngikutin badminton. Bahkan di hari-hari terakhir Bapak, aku masih ngobrolin badminton sama beliau. Aku pernah nemenin Bapak di rumah sakit dan ngajak ngobrol tentang turnamennya Kevin Sanjaya saat itu. Padahal waktu itu kondisi Bapak udah gampang lupa akibat efek penyakitnya, tapi Bapak masih inget Kevin Sanjaya dan nyambung sama obrolanku. Entah sebenarnya beneran nyambung atau ga, pokonya Bapak manggut-manggut kaya mengerti. Yaa bisa dibilang, aku jarang ngobrol intens sama Bapak. Dari sekian banyak topik pembicaraan, badminton jadi salah satu topik yang bisa nyambungin aku sama Bapak. Jadi, punya kesempatan ngobrolin badminton sama Bapak itu udah termasuk ingatan menyenangkan dan tentunya sangat kurindukan.
Everything happens for a reason.
Aku gapapa. Meski grief dari kepergian Bapak beberapa kali bikin hal-hal sederhana terasa menyedihkan, sesimpel lihat raket merah di rumah ataupun nonton turnamen badminton di TV. Namun, sesedih apapun, pada akhirnya life must go on. Makin ke sini, hal-hal sederhana itu juga seperti lebih make sense dalam membentuk pribadiku saat ini. Barangkali masa-masa aku ga suka si raket merah dulu ada, biar sekarang aku ngerti bahwa value dari suatu barang bisa dilihat bukan dari penampilannya aja. Barangkali aku seneng badminton, biar bisa enjoy berlama-lama nemenin adek main di rumah. Barangkali Bapak udah pergi duluan, biar aku memahami bahwa kesempatan main badminton atau melakukan hal-hal sederhana apapun bersama orang-orang yang disayangi itu berharga, dan waktu terbaik melakukannya adalah saat ini, saat aku dan mereka semua masih bisa saling bertemu.
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2306
Kamis, 10 Agustus 2023
Maybe This is What "Thank You, Next" Means
The mood. The warmth. The realistic story. I've watched I Fell in Love Like A Flower Bouquet (2021) for several times. This film never failed to impress me. I couldn't say it is a film with good or bad ending. The main characters looked happy and content at the end. I'm happy for both of them, but also sad for the unexpected part. After watching it for the first time, I got mixed feeling. I was kinda overwhelmed. So that's why I write this out.
We used to love each other. We used to count on, talk to, smile to, meet with, and share affection with each other. We used to be lover. We used to be partner, fellow, companion, soulmate, and go-to person. We used to be together for a long time, but now we're running out of time. We grow to find out ourselves change, stop, and realize we're much different that we don't deserve each other. We are not the same as we were.
The gap. The change. The hug. They showed me that falling in love is beautiful moments in life, but the moments are nothing more than just a part of life. The other part is changes. Some changes create the gap. They grow older and know much better about reality of being an adult. Someone on the internet said they have economical gap, so that's why their thoughts become so different at the end. But it's not only about the money, but also their priority. They set new version of self priority to the point they realize their perspective has the gap. The gap they couldn't tolerate any longer as a couple. They see about love differently, they get emotional gap. At the time they realize they become different as they were, they realize they couldn't much longer stay together, they hug each other. Hug for the pain, the tears, and the memories. As part of life as well, life must go on. Life must go on with or without beautiful moments. By moving on, they actually just overcome the next part of their beautiful moments.
Saying good bye is not the hardest part, starting over without you is. But that's not impossible to happen. Living without you is pretty much possible. We were fine together back then and we are fine on our own now.
The grief of break up is not shown so much. But it doesn't mean there is no one hurts. They both just know what suit them better, who deserve them the best. They couldn't count on each other again and they accept that fact. Instead of forcing or waiting for better love to happen, they choose the separated way, place, and feeling. They just decide who's more meant to be with their own.
We had many similar interests, but since life seemed no more turning around work-film-fiction book-animation-repeat, we just figured out different essential meaning of happiness and living and love and peace and it turned out to be our ending, and that was fine. I fell in love like a flower bouquet. Exactly like a flower in bouquet, it just dried up in time, and that was fine.
Photos source: https://youtu.be/iDJ-ANwVsG4
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2305



