Tuhan, Aku Hanya Ingin Jalan
Menjadi orang besar atau sekadar pemelajar
Coretan bisu yang mengadu oleh gadis berlagak cinta buku (:
Yang berubah dariku akhir-akhir ini adalah ternyata aku bisa menikmati matcha. Dulu, menurutku matcha tidak lebih seperti sari daun hijau. Rasanya tidak pahit, tapi juga kurang bisa dibilang manis. Pokoknya, prinsipku dulu tidak bisa menerima segala jenis menu matcha, seperti sore itu.
"Maaf mbak, saya ga pesen matcha latte. Pesennya iced latte biasa," kataku ke pelayan kafe.
"Oh maaf, Kak, ini betul atas nama Kak Aksa?"
"Iya bener."
"Oke, Kak, mohon maaf kami salah tulis pesanan. Mohon ditunggu untuk iced latte-nya ya, Kak."
Belum sampai pelayan tadi beranjak pergi, seorang perempuan yang duduk di meja sebelahku berdiri dan berkata, "Mbak, itu matcha latte-nya kalau buat aku aja boleh? Tadi belum order soalnya masih nungguin temen."
"Oiya, boleh, Kak. Ini silakan. Atas nama Kak siapa?"
"Atas nama Nara."
Begitulah aku tahu namanya, dari kisah salah pesanan. Kukira, kisahnya berhenti sampai di situ.
"Mas Aksa ga suka matcha ya?"
Sontak aku kaget seseorang memanggil namaku. Tiba-tiba saja dia, perempuan yang baru saja mengambil alih pesanan matcha latte itu, mengajakku ngobrol. Dia tampak santai dan tidak ragu. Untukku yang malas basa basi, dia orang yang supel.
"Iya, ga suka."
"Masnya kerja atau kuliah?"
"Kuliah, tapi belum masuk, baru keterima tahun ini."
"Oh sama, Mas, aku maba juga. Kuliah di kampus seberang kafe ini?"
"Iya, mbaknya juga?"
"Iya, Mas, hahahaha ternyata seangkatan dan sekampus. Eh jangan manggil mbak, orang seumuran. Nara aja."
"Jangan manggil mas juga kalau gitu. Aksa aja."
"Oiya, hahahaha. Oke-oke, Aksa."
Begitulah kisah salah pesanan tadi berlanjut. Tentang teman yang sudah dia tunggu, orangnya tidak jadi datang. Jadilah dia menggeser kursinya di depan mejaku dan kami terus mengobrol. Ternyata dia orang asli kota ini, aku mendapat banyak info penting dari ceritanya. Untuk seorang maba alias mahasiswa baru, aku tidak keberatan dengan sifat supelnya itu. Mungkin waktu itu, aku merasa senang saja punya kenalan baru di kota rantau.
Perasaan senangku itu ternyata terus bertumbuh. Nara adalah perempuan yang membuatku nyaman. Nyaman sebagai teman ngobrol, makan, jalan-jalan, mengerjakan tugas, juga bekerja dalam tim. Banyak kegiatan kulalui bersama Nara, aku jadi teringat pepatah Jawa, "Witing tresno jalaran soko kulino" yang artinya munculnya cinta karena terbiasa. Cinta ya? Hmm kalau ditanya begitu, aku selalu menjawabnya dengan kemungkinan-kemungkinan. Mungkin ini hanya perasaan sesaat. Mungkin kalau disebut "cinta", masih kejauhan. Lagipula cinta itu seperti apa? Yang kutahu waktu itu, aku dan Nara berteman baik dan tidak ada satu pun dari kami keberatan dengan hubungan seperti itu. Setidaknya sampai di tahun ketiga kuliah itu.
"Ra, nanti sore jadi belanja bahan?"
"Jadi dong, nanti jam setengah empat paling."
"Oke, ada temennya kan?"
"Iya, nanti barengan bertiga sama Caca, sama Fifi."
"Oke sip ati-ati. Ntar sore aku juga mau ambil MMT sama Ardian."
"Okeee, Bos."
Sore itu, aku, Nara, dan teman-teman satu kepanitiaan sedang persiapan H-7 acara. Aku sering ada kegiatan bersama Nara. Apalagi kami bergabung di beberapa projek dan organisasi yang sama. Ada suatu momen saat menyiapkan acara sore itu, aku menyadari betapa aku tidak ingin kehilangan Nara. Aku menyadari sesuatu yang tumbuh menyakitkan, tapi tidak ingin kulepaskan.
Sambil duduk menunggu antrian di toko percetakan MMT, tiba-tiba Ardian berkata padaku, "Sa! Udah tahu belum? Nara pingsan di toko grosir."
"Hah? Ada Caca sama Fifi kan di sana?"
"Ngga, Sa, mereka berdua ga bisa berangkat. Nara berangkat sendiri. Ini dari tadi Efi udah ngabarin di grup."
"Dari tadi? Terus sekarang Nara sama siapa? Udah ada yang nyusul ke sana?"
"Ini tadi 6 menit yang lalu, katanya Efi udah ke sana. Anak konsumsi lain mau pada nyusul juga ini katanya. Mau nyusul juga, Sa?"
"Habis dari sini aja sama lo, gimana?"
"Oke siap."
Setiap orang tidur pasti terlihat kasihan, begitu kata guru bahasa Indonesiaku dulu waktu SMA. Begitulah pula bagaimana aku melihat kondisi Nara waktu itu. Dia berbaring di atas sofa dalam ruang istirahat staf toko grosir berukuran 3 x 4 meter. Ada Efi di sampingnya sedang mengipasi Nara yang belum sadarkan diri. Aku tahu, tidak lama lagi Nara pasti bangun, tapi kepalaku terlanjur penuh cemas dengan tanya-tanya kenapa. Kenapa Nara bisa sampai seperti itu, tapi aku tidak tahu? Kenapa ketika Nara sedang sendirian dan butuh teman, tapi aku tidak ada di sampingnya? Nara menganggapku seperti apa?
Aku sendiri menganggap Nara siapa? Tepat di saat itulah aku menyadari bahwa aku bukan menyukai Nara sebagai teman biasa, bukan. Perasaan ini lebih dari itu. Bisa kubilang, aku menyukainya sebagai teman dekat yang tidak akan kubiarkan sendirian waktu dia menghadapi kesulitan. Aku menyukai Nara sebagai teman dekat yang ingin kudengarkan apapun ceritanya. Aku menyukai Nara sebagai teman dekat yang aku tidak ingin dia sungkan untuk meminta bantuanku. Aku menyukai Nara sebagai teman dekat yang dekatnya tidak pernah kembali berjauhan. Aku menyukai Nara dan ingin menghabiskan waktu bersamanya sebanyak mungkin, kalau bisa selamanya.
Kenyataannya, selamanya itu tidak pernah ada.
"Sorry, Sa, aku begadang waktu itu ngerevisi rencana anggaran buat konsumsi. Semaleman ga tidur, mana paginya ga sarapan juga."
Aku mendengarkan Nara, tapi tidak melihatnya. Aku diam saja menatap laptop, membuka Microsoft Word dan tidak mengetik apapun.
"Aku tahu, Sa, aku salah. Maafin dong, jangan marah."
Aku tidak marah. Aku tidak menyuruh Nara minta maaf. Aku hanya kesal. Aku kesal dengan diriku sendiri. Aku khawatir Nara lebih kenapa-napa dari pingsan di keramaian dan aku tidak ada di sana. Aku khawatir Nara tak sadarkan diri, tak ada seorang pun menolongnya, dan dia... ah sial, aku khawatir berlebihan.
Aku mematikan laptop, menutupnya. Aku menghela napas dalam lalu melihat lurus pada Nara. "Jadi, sejak kapan punya maag?"
Kepala Nara yang menunduk langsung terangkat. "Kok tau, Sa, aku punya maag?"
"Kata Efi."
"Oh iya itu, ga lama sih, dari SMA." Nara kembali menunduk seperti siap mendengar omelanku.
"Ra, lihat depan, jangan nunduk. Aku mau ngomong serius."
"Kayanya dari tadi aku ngomong serius juga ga diliat."
"Ra."
"Iya iya, ini udah tak liatin ni, gimana?"
"Aku suka kamu, Ra."
Nara diam sejenak dan tampak tidak percaya. "Maksudnya?"
"Dari awal ketemu waktu kamu ambil pesanan matcha latte yang salah itu, terus ngobrol, ngobrol, ngobrol dan sampe temenan kaya sekarang, aku sadar ini udah bukan perasaan buat temen biasa. Kemarin, waktu dapet kabar kamu pingsan dan baru tau kamu jadinya beli bahan sendirian, aku sedih, Ra. Bahkan baru aja aku tahu kalau ternyata kamu punya maag padahal sering telat makan. Aku sedih aku belum cukup bisa diandalkan waktu kamu butuh teman. Aku tahu kamu bisa sendiri, tapi aku ga bisa berhenti khawatir kalau kamu lagi kesulitan kaya kemarin. Aku pengen ada buat kamu, Ra."
Nara masih memasang wajah tidak percaya. Entah apa yang dipikirkannya dan apa yang akan dia katakan. Aku sudah siap dengan segala responnya. Aku tidak memaksanya. Aku tidak meminta jawabannya. Aku hanya mengungkapkan, confession pertama kepada perempuan yang kusukai.
"Aksa, aku mau ke kamar mandi bentar."
"Iya, Ra."
Perempuan yang kusukai itu butuh waktu. Mungkin hari itu Nara memang kaget. Dia datang menemuiku dengan niat hati ingin bicara tentang dia yang pingsan tempo hari dan aku yang jadi sering diam padanya. Sedangkan aku diam-diam menyiapkan diri untuk menyatakan perasaan. Apapun yang terjadi, aku tidak menyesali hari itu.
Nara kembali dari kamar mandi dan duduk di hadapanku. Dia sudah tampak lebih tenang dari sebelumnya. Dia tersenyum padaku, senyum yang manis sekali.
"Aksa, makasih ya sebelumnya udah jujur. Makasih juga udah menyukaiku. Selama ini aku juga seneng temenan sama kamu. Maaf kalau aku udah bikin kamu sedih dan khawatir. Buat perasaan yang tadi kamu sampein, aku mau tanya dulu boleh?"
"Tanya aja, Ra."
"Kenapa aku, Sa? Kenapa menyukaiku?"
Giliran aku yang tersenyum. Aku sudah menyiapkan kisi-kisi pertanyaan yang akan ditanyakan Nara dan satu pertanyaan itu beneran keluar.
"Karena Nara orangnya. Orang yang nyaman denganku ngobrol basa basi, diskusi tentang isu serius maupun kabar burung sana sini, makan di mall maupun lesehan pinggir jalan, dan hal-hal lain selama ini aku ingin menjalaninya lebih lama lagi bareng kamu, Ra, dengan status hubungan yang lebih dekat."
"Kalau hanya menjalani kaya selama ini emang kenapa?"
"Selama ini, aku belum cukup untuk kamu merasa sedekat itu sama aku, Ra."
Nara kembali diam. Bola matanya berputar memandang langit-langit sekitar. Mungkin seperti kepalanya juga yang sedang memutar otak, memikirkan respon apa yang jujur dan tetap enak kudengar. Aku sendiri mengerti Nara sedang ragu, meragukanku. Apa aku tidak terlihat sungguh-sungguh? Tidak, saat itu sudah bukan lagi waktu untukku merasa kurang percaya diri. Apapun itu, aku menghormati keputusannya. Aku percaya Nara. Dia juga mengerti apa yang terbaik untuknya waktu itu.
"Aksa, maaf, aku ga punya perasaan yang sama seperti yang kamu sampaikan. Aku seneng dengan pertemanan ini, tapi aku ga pernah melihatnya lebih jauh dari ini."
Hening. Aku dan Nara sama-sama mencerna apapun percakapan yang terjadi malam itu dalam diam. Mungkin aku yang salah perkiraan, mengartikan semua sikap Nara selama ini dengan perasaan berlebih. Padahal Nara tidak mengganggapnya lebih dari teman biasa.
"Setelah ini kita masih temenan kaya biasanya kan, Sa?"
Aku juga sudah menduga pertanyaan Nara barusan. Namun, aku tidak tersenyum seperti sebelumnya. Tidak kusangka mendengarnya langsung terasa menyakitkan. Aku menenggak es latte tanpa gula yang sudah kupesan. Pahit, seperti pertanyaan Nara barusan. Bagaimana bisa aku ngobrol santai, becanda, makan dan nongkrong bersama, sesekali memberi perhatian lebih, mengantar jemput Nara dengan mengorbankan perasaan sendiri yang tumbuh begitu menyakitkan?
"Aku ga tau, Ra. Aku ga tau apakah tetep bisa biasa aja setelah ini. Aku ga menyesali apapun yang terjadi malem ini. Aku lega kamu bisa tahu langsung dari aku. Setelah ini, kita lihat aja ya gimana, tanpa memaksakan apapun?"
"Aku bakal sedih kalau kehilangan temen kaya kamu, Sa."
Aku juga sedih, Ra, sejak saat itu juga. Kami sama-sama tidak ingin kehilangan satu sama lain. Namun, kami juga tidak bisa menjadi lebih dari teman untuk satu sama lain.
Seusai malam itu, kami berusaha bersikap seperti biasa, meski ada perasaan canggung luar biasa tiap kali ketemu langsung. Teman-teman satu kepanitiaan juga menyadari jarak itu. Namun, jujur sulit untuk tetap menjadi Aksa seperti biasanya tanpa menghiraukan perasaan yang belum lama dipangkas paksa. Tidak ada satu pun yang membuatku menyesal, tapi kesedihan dari patah hati tidak bisa disangkal. Barangkali dengan begitu kata-kata Einstein terbukti benar: "Yang pasti adalah ketidakpastian." Bertahun-tahun berteman dengan Nara, tidak pasti hubungannya akan tetap sama.
Pertemuan terakhirku dengan Nara ada di satu malam pembubaran panitia proyek bersama kami yang terakhir. Percakapan malam itu, bisa dibilang kontak terakhirku dengan Nara. Setidaknya malam itu, Nara tampak bahagia.
"Aksa, habis kepanitiaan ini selesai, akhir bulan ini, aku mau ke Thailand."
"Thailand?? Jauh banget, Ra, acara apa?" balasku.
"Aku keterima magang di kedutaan besar Indonesia di sana, Sa. Doain, ya."
Melihat Nara, aku hanya tersenyum malam itu. Dalam hati, aku bangga sekali. Aku tidak bisa berhenti menyukai Nara begitu saja. Nara pun tidak bisa membuka hatinya untukku begitu saja. Antara kita adalah emosi statis yang konstan menciptakan jarak saling berjauhan. Untuk kembali berteman seperti biasa, sayangnya tidak satu pun dariku atau Nara mampu melakukannya dengan baik. Meski menyedihkan, akhirnya membuat jarak menjadi pilihan yang kami butuhkan untuk menerima perasaan masing-masing saat itu.
"Kamu akan baik-baik saja kan di sana?"
Adalah pertanyaan paling sering bermunculan di kepalaku sejak ia pergi dari kota ini. Pertanyaan yang tak pernah kuucapkan. Pertanyaan yang dilanjutkan sesi berkompromi dengan Tuhan untukku mengurangi kekhawatiran. Aku tidak memaksakan pertemuan maupun balasan perasaan pada Nara, hanya membiasakan perasaan dengan bekas luka.
Tiga tahun berlalu sejak percakapan terakhirku dengan Nara. Sekarang, aku bisa menikmati matcha. Sensasi meminum sari daun hijau tidak lagi menggangguku. Rasanya memang tidak pahit dan tidak terlalu manis, tapi rasanya yang ringan dan segar ternyata cocok di lidahku. Setelah menjadi matcha latte, tekstur sedikit kental dan rasa sedikit creamy perlahan menggantikan posisi ketergantunganku pada kopi.
Aku tidak sedang bicara tentang pengkhianatan. Apa yang berubah dariku akhir-akhir ini ada beberapa, kecuali bagaimana aku melihat Nara. Aku tetap melihatnya sebagai sosok yang sama sejak bertahun-tahun lalu. Yaa tidak sama persis sih, sekarang sudah menjadi perasaan yang lebih baik dan aman. Aku cukup senang jika melihatnya senang dan berdoa ia akan baik-baik saja jika melihatnya susah hati.
Aku masih menyukainya, meski dia tidak. Dan itu tidak masalah.
Aku masih menyukainya karena aku terbiasa begitu. Ini mungkin terdengar cringe, tapi aku sudah tidak peduli dan lebih mencoba jujur tentang apa yang masih tersisa di sarang perasaan yang telah tumbuh dari sekian tahun lalu. Aku tidak membuang perasaan indah-tapi-rapuh ini begitu saja. Malah hancur menyakitkan jika dilepas paksa.
Antara aku dan Nara adalah emosi statis yang konstan menciptakan jarak saling berjauhan. Namun, hari ini jarak itu sedikit berkurang. Akhirnya, hari ini datang. Satu hari yang aku antisipasi selama ini tiba, hari pernikahanku dan dia ada di hadapanku sebagai tamu.
"Selamat ya, Aksa, semoga bahagia terus," ucap Nara di pernikahanku.
"Makasih udah dateng, semoga bahagia juga kalian," balasku di hadapan Nara dan pasangannya.
Aku masih menyukainya sebagai alasanku terus percaya pada masa depan. Percaya bahwa terus berjalan ke depan meski ada rasa tidak nyaman adalah cara terbaik menerima kenyataan. Percaya bahwa tidak bersamanya bukanlah akhir dari hari-hari menyenangkan. Percaya bahwa apapun nanti ada yang berubah, ia akan baik-baik saja dan aku pun.
Aku masih menyukainya sebagai hal-hal menyenangkan dalam bentuk lain yang lebih baik dan aman, meski dia tidak. Dan itu tidak masalah. Segalanya bisa berubah, itu pasti. Namun, untuk hari ini, aku tidak ingin menduga apapun. Menghidupi waktu sekarang sebaik mungkin menjadi amunisi melanjutkan hari esok, sepahit apapun hal-hal yang terjadi di masa kemarin.
Festival kecil literasi dan pasar buku keliling nusantara.
Begitu kalimat yang sering kubaca ketika mencari tahu apa itu Patjarmerah. Aku pertama kali tahu acara itu bulan kemarin. Entah bagaimana juga baru kutahu event bergengsi yang ternyata aku nyaman berlama-lama di sana. Untukku yang baru berkunjung pertama kali, Patjarmerah bukan sekadar acara bazar buku murah semata.
Hari pertama Juli 2023 ini, aku pergi ke Patjarmerah Solo. Kenapa acara itu begitu berkesan untukku sebenarnya juga karena beberapa hal dalam kehidupan sehari-hariku waktu itu. Akhir Juni kemarin kurang berjalan baik. Entah kenapa juga bulan Juni rasanya berjalan sangat cepat. Aku masih ingat di akhir Juni itu, aku nyeletuk ingin ketemu langsung orang-orang yang kuidolakan selama ini di internet. Memikirkannya saja sudah bikin agak semangat. Mungkin dari sana, Allah mengabulkan keinginan spontanku itu.
Stefani Bella alias hujanmimpi, Kak Bella, atau Kak Bel. Penulis buku yang pertama kali kutahu sebagai penulis novel Elegi Renjana. Judul novelnya bagus menurutku, jadi nama penulisnya ikut nempel di otak. Jujur, sampai sekarang aku belum benar-benar membaca habis bukunya, tapi aku mengikuti akun-akun Kak Bel di Instagram, Twitter, Tumblr, maupun podcast-nya di Spotify. Aku senang membaca dan mendengar karya-karya Kak Bel di internet. Gaya penulisannya juga cocok dengan seleraku. Dua atau tiga kali gitu juga kalau ga salah, komenku pernah dibalas Kak Bel di Instagram, woww waktu itu senengnya bukan main. Aku tahu Kak Bel emang suka bales-balesin komen followers di internet, tapi kalau ngalamin sendiri tetep aja salting wkwkwkw. Intinyaa secara ga langsung karena sering ngikutin di dunia maya, aku juga ingin ketemu Kak Bella di dunia nyata. Long story short, pagi-pagi di akhir bulan kemarin, aku dapet info di story Instagram kalau Kak Bel mau ke Solo buat ngisi talkshow. Yaa aku jelas langsung semangat, apalagi acaranya gratis. Nah, ternyata talkshow itu adalah salah satu rangkaian acara Patjarmerah.
Patjarmerah tahun ini pertama kali diselenggarakan di kota yang sedang kutinggali, Solo. Waktu event-nya juga ga nanggung-nanggung, 9 hari berturut-turut. Setelah bikin akun di web Patjarmerah dan daftar talkshow-nya Kak Bel, aku baru tahu ternyata Patjarmerah ngadain juga banyak talkshow lain dan sesi kepenulisan, baik acara berbayar maupun gratis. Aku makin semangat waktu tahu banyak pembicara di acara Patjarmerah yang kukenal. Mungkin kamu juga tahu atau pernah dengar nama-nama, seperti penulis puisi Jokpin alias Joko Pinurbo, penulis dan kreator konten seputar KPop Alphi Sugoi alias Alphiandi, penulis dan aktivis isu perempuan dan anak Kalis Mardiasih, penulis dan kreator Mojok.co Agus Mulyadi, penulis novel dan AU (Alternative Universe) Reen alias R. Khoirotun, penulis buku Gadis Kretek Ratih Kumala, penulis dan kreator konten helobagas, penulis Syahid Muhammad, dan tentu saja lagi-lagi Stefani Bella. Bahkan walikota Solo Gibran Rakabuming sampai Raja Mangkunegaran KGPAA Mangkunegara X juga punya sesi acara sendiri di Patjarmerah. Ini acara gede (baca: bukan festival kecil, REAL) dan keren banget menurutku, tentu saja sponsornya juga banyak dan top. Ikut senang rasanya event literasi didukung banyak pihak. Sebagai penikmat buku dan event gratis sepertiku, tentu saja kusambut Patjarmerah Solo di awal bulan Juli kemarin dengan excited dan suka cita~
![]() |
| Dari kiri ke kanan: Kak Alphi, Kak Bella, dan Kak Alvin |
Aku datang di salah satu sesi talkshow hari pertama yang bertajuk "Idola, Korea, dan Karya". Awalnya, aku mendaftar hanya karena ingin ketemu Kak Bella. Namun, ternyata aku juga mendapatkan banyak insight menarik dari Kak Alphi dan Kak Alvin yang sepulang dari sana, aku makin bersyukur bisa ikut sesi ini.
Pertama, Kak Alvin. Di sesi talkshow yang kuikuti, selain sebagai KPoper generasi lama, Kak Alvin memberikan perspektif dari sisi penerbit buku. Beliau adalah direktur utama penerbit buku Naratama. Ada juga beberapa nama penerbitan lain di bawah naungan Kak Alvin, tapi di talkshow itu Kak Alvin lebih banyak cerita tentang penerbit Naratama yang telah menerbitkan buku-buku dari cerita AU. Bagiku, perspektif Kak Alvin sebagai penerbit terdengar fresh karena belum pernah kudengar sebelumnya. Jadi kata beliau, secara bisnis memang penerbit akan lebih mudah menerbitkan karya yang engagement-nya dari awal sudah besar, misalnya AU dari Twitter yang udah banyak like dan retweet. Ga bisa dipungkiri, engagement yang besar artinya banyak orang udah tahu ceritanya dan ketika sudah jadi buku, penerbit jadi lebih terbantu waktu pemasaran buku karena ceritanya udah rame duluan. Namun, ga semua karya yang rame itu bagus. Bisa jadi ketika mau diterbitkan jadi buku, ceritanya ga bisa dipertahanin atau susah diedit. Selain itu, Kak Alvin juga cerita kalau pernah ada penulisnya yang merasa bersalah dan khawatir karena merasa bukunya kurang banyak dikenal di masyarakat. Padahal ketika sebuah naskah sudah dibeli penerbit, sudah menjadi tugas penerbit untuk menerbitkan dan memasarkan buku tersebut. Penulis kalau mau ikut promosiin bukunya juga boleh banget. Namun, penerbit yang baik memang sudah seharusnya memberikan hak-hak penulis, termasuk mempromosikan buku dan tidak terlambat mengirimkan royalti buku kepada penulis.
Banyak juga yang dipikirin penerbit, begitu pikirku selepas mendengarkan Kak Alvin. Ternyata, banyak yang harus dilakukan hanya untuk mengantarkan sebuah judul buku sampai ke tangan pembaca. Ga serta merta perjalanan si buku itu berhenti setelah penulis merampungkan naskahnya. Meski aku juga sedikit mengerti tentang sedihnya hitung-hitungan uang penjualan buku di Indonesia biar bisa dibagi rata ke banyak pihak yang sudah terlibat. Intinya dari cerita Kak Alvin, aku jadi bisa lebih mengerti POV dari penerbit dan mengapresiasi sebuah buku original dengan lebih baik.
Kedua, Kak Alphi. Di talkshow ini, aku nangkepnya Kak Alphi lebih ke nge-encourage buat berani aja bikin apapun yang disuka selama itu ga merugikan orang lain. Apa yang disuka dibikin karya. Misalnya suka KPop, bisa coba bikin cover lagu, dance cover, video reaction, nulis AU, atau lainnya. Yaa meski memang kalau hobi pengennya dinikmati aja tanpa berkarya apa-apa, itu juga gapapa. Cuman kalau beneran pengen serius dan untung-untungnya bisa menghasilkan uang dari sana, bisa dicoba bikin karya dari hal sederhana yang disukai. Gausah takut dan malu kalau beneran pengen maju, ya, kan?
Kelihatannya gampang kalau denger motivasi berkarya kaya kata Kak Alphi. Makanya, itulah kenapa aku suka event-event semacam Patjarmerah ini. Niatnya cuma ketemu Kak Bel, tapi alhamdulillah dapet banyak hal positif lain ketika pulang. Orang-orang kok keren-keren banget ya, semoga bisa nyusul juga:")
Ketiga, Kak Bella. Kak Bel ngasih insight dari sisi seorang penulis buku. Kak Bel cerita kalau beliau punya lika-likunya sendiri, dari kena omelan di keluarga sampai di-bully. Bahkan pernah suatu waktu KPop "menyelamatkan" Kak Bel dari hal negatif yang dihadapinya. Aku melihatnya ya emang hal negatif harus diusahakan untuk dilawan. Bukan dilawan dengan hal negatif juga, tapi dibales dengan hal positif, dengan karya yang lebih berguna dari kata orang yang nge-hate. Buat apa dilawan? Sebenarnya buat kebaikan diri sendiri biar ga keterusan dapet input negatif dari luar. Sekalipun ga ada teman curhat atau segala macem yang bisa mendukung diri untuk bangkit, ya harus mau keluar cari zona baru. Misalnya, suka nulis ya coba nulis dan cari temen di platform-platform menulis, dulu Kak Bel juga awalnya nulis di Tumblr. Pokonya berusaha mengelilingi diri dengan orang-orang yang punya minat sama. Lagi-lagi juga diingetin, kalau emang punya karya yang ga merugikan orang lain, ya gas aja dilanjutin. Setiap karya punya penikmatnya sendiri. Setiap penulis punya pembacanya sendiri.
Sudah kuduga Kak Bel akan mengucapkan kalimat-kalimat quotable yang terdengar simpel, tapi nempel di kepala. Selepas talkshow, aku dapet kesempatan untuk ngobrol dan foto berdua sama Kak Bel. Waduh, sedekat itu sama orang yang pengen ditemui rasanya deg-degan yang membahagiakan. Beneran kaya beban di kepala itu otomatis mereda sejenak dan kesempatan masih hidup aja jadi sesuatu yang sangat-sangat disyukuri.
![]() |
| Dibolehin ngrangkul Kak Bel, grogiii :") |
Sekarang, bulan Juli udah mau berakhir. Aku bersyukur sekali awal bulan ini kumulai dengan sangat menyenangkan di Patjarmerah. Aku sangat berterima kasih buat penyelenggara, panitia, dan siapapun orang-orang yang terlibat di Patjarmerah Solo tahun ini. Aku udah ga sabar untuk dateng ke Patjarmerah lagi di tahun-tahun berikutnya. Semoga sampai kunjunganku ke Patjarmerah yang kedua, ketiga, dan seterusnya masih bisa bawa pulang cerita sangat baik dan menuliskannya seperti ini:) Panjang umur pekerja di bidang literasi Indonesia!
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2304
Dunia tidak bergerak sesuai rencanaku. Rencana tidak terlaksana, kesalahan di masa lalu terbayang di kepala, karenanya meragukan diri sendiri sangat mudah. "Bisa tidak ya menyelesaikannya?" adalah pertanyaan paling sering maju dibanding semangat dan percaya diri.
Sebenarnya aku paham, tidak perlu memusingkan sesuatu di luar kendali. Namun, tidak selamanya mulus menjalani sesuatu di dalam kendali. Misalnya, mengontrol emosi sendiri. Perasaan tidak aman kembali membuatku ingin melarikan diri. Aku takut menemui ketidakpastian esok hari. Entah jenuh tiada hasil yang diinginkan atau lelah menjalani proses tiada berkesudahan, aku hanya ingin selesai. Lantas bagaimana selesai jika energi untuk melanjutkannya tidak ada? Seringkali dibanding lapar dan kantuk, cemas lebih dominan meminta peluk. Menyerah tampak lebih mudah dilakukan.
Ketika pikiran berkelana kejauhan, hal yang kadang terlupa: denyut nadi. Denyut kecil yang bergerak menemani bagaimanapun baik buruknya diri. Jika hidup berjalan dari satu kecemasan ke kecemasan lain, barangkali seperti nadi, terus berjalan untuk bertahan. Meski dunia tidak bergerak sesuai rencanaku, tapi aku bisa merencanakan sesuatu untuk bergerak lagi. Dengan begitu, aku tidak menyerah pada diriku sendiri.
#Challengemenulisessay_Jawabanuntukkecemasanmu
![]() |
| Credit: trakt.tv |
I just finished watching Meet Me After School (2018), the drama I thought it would be kinda light to watch yet it turned out so complex. I set myself not to take sides with certain characters, but use pov of the third one: I watch this to gain my perspective, not to be influenced. I did. At least I did I guess. I am satisfied at the end, it has good-complicated-dramatic-realistic storyline.
The main moral value I got from this drama: stay true to yourself. Even it's not yet, you have to stay true at the end.
Lying to others is bad, lying to own self is worse.
The problem is sometimes in life, we don't know whether it is right or it is wrong. In some cases we need to figure out carefully at the first place. We (at least myself) won't forever survive on lying. I did tell lie, I regret it so much till now. I got traumautized I guess, it had no good to remember in the future. The wrong feeling, the unusual body response are the proofs that what I lied is never be forgotten (at least by myself). Anyway in terms of figuring out certain things in life, everyone needs to take time. But if we think we have time in forever, that is totally wrong. I realize in life there is limited time, but not everyone knows when exactly it is. Everyday we are just trying for the best as we can.
Some mistakes is obviously a crime. Other mistakes are not, but they could be planned to be crime.
We have norma, the world has normality standard that everyone agrees with. We simply just have to follow it. Don't feel so special or acting like fighting for it alone cause the universe is not rotating over you. Never know about the future means we need to take a good care of present. If we just simply think today problem is own self's problem, we never know which one problem is going to involve our closed ones. Remember why you started. Remember where you started. Remember for whom you started. For now I could say that everything is started from the closest family; the house I always go home to, the people I have to take care first after myself. They never want us to worry, so they would be the place we can rely on. We never want them to worry as well, so do the best as you can. You have them, your back is safe. So don't worry too much about your future. Keep being hopeful and holding on it. Hang in there.
If "I love you" sounds not too genuine, take action instead.
You already know there are five love languages, put efforts for the best as you can to other people and yourself of course. Sometimes put yourself first doesn't always work. Sometimes put others' happiness first works on your happiness better. You name it, you know it when the best time for that. Kill them with kindness, kill your bad thoughts with kindness. Be gentle, at the end you just try and don't force the universe to always work as you wish. You are not the center of universe, aren't you? You are just dealing with it, so bear with it.
Staying true to yourself maybe means taking your time to find out your truest self for certain moment.
Sometimes it could be true, it could be false, but we just go for a try most of the time. Mistakes may add trauma, but please use the power your present self has to get through it. You may think you are not that powerful, but at least remember what is left for now. No matter it is, either responsibility, confidence, hope, trust, faith, or beloved ones, don't forget that you have Allah. Allah is always here and there near you, watching you. You have the most important things in life, consider them to give you more reasons to stay true to yourself.
#30haribercerita
#30hbc23
#30hbc2303
Orek-Orekan Salma . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates