Minggu, 02 Januari 2022
Senin, 27 Desember 2021
There is always someone better, right?
Disclaimer: like any other opinions on the internet, this post is not for everyone.
I was used to think that everything I did, I had to take it 100% completely. Then I was used to see everything should be perfect. I thought being perfectionist would make it come true. But the more I grow older, the more I realize, that concept is just different with "something should be taken perfectly". I got misconception I guess. In the beginning, I was okay, I didn't have any intensive problem. But later on, I lost much time, I wasted opportunity. The more I tried to be as perfect as possible, the more I got myself so tired. Instead of getting my works got 100% done, I turned out getting much less than that.
Getting done is better than perfect.
I heard that quote a lot on twitter in the context of people who are endeavoring their thesis or kind of final project. That quote is going resonate in my mind. I looked back at my perfectionist self, what a pity. You know the state like you just want to make sure everything is on the track but the track itself is running out of time?
Time management problem.
I'm often sick of myself about doing procrastination a lot. I just needed longer time to begin with bunch of things I should do, but I ended up doing nothing since in the start. Until someday I watched a video on instagram story that procrastination is actually not about time management, but emotion management. Scientific journals prove that. How I manage my emotion is the thing that decides whether I'm going to procrastinate or exactly start doing something.
/now playing Phum's song, hello anxiety~/
So, the thing I want to make note here is on this post title.
There is always someone better, and that's fine.
I don't really know the right correlation, but many times I tried to be perfectionist, I just forgot about there was always someone better than me. It's kind of pressure or whatnot. It sounds like comparison between myself and the world, but whatever it just is. The thing I should do much more is feeling enough.
Grateful. Mindful. Hopeful.
I'm supposed to choose to keep learning instead of getting stuck of what's happening. I'm supposed to analyze and start doing what I need instead of questioning things I couldn't take control. I'm supposed to pull myself together and get things done realistically instead of pushing myself too hard and getting depressed easily.
Embracing the unknown. No matter it's going to be, keep going. It's tiring, sure, but people are designed to be adaptive, right?
"Future is just not today business. Today is a gift, so that's why it's called present."
Thumbs up to the unknown.
Peace out to what's passed.
Thank you, next.
There is always someone better, and hopefully it's you in the future. So, keep moving forward.
| like a beautiful pudding, it just should be swallowed and finished to find its ultimate joy~ |
#30haribercerita
#30hbc21
#30hbc2115
Rabu, 15 Desember 2021
Tentang Pemimpin
| Beberapa kawan yang membersamai selama memimpin |
Takut.
Kata di atas bukan sekadar kata pertama postingan ini. Kata itu menjelaskan vibes pikiranku jika bicara tentang serba serbi judul postingan ini. Kata itulah kata pertama yang kukatakan pada ketuaku sewaktu aku ditawari menjadi ketua bagian lain yang mana posisi ketua paling tinggi pertama yang kuterima seumur hidup. Ya, akhirnya aku menerimanya, tapi kata itu--takut--tetap tinggal.
Pikiranku liar, pun rasa cemasku. Aku terbiasa begitu selama menjadi apapun yang di sana aku dipanggil sebagai pemimpin.
"Kenapa harus aku? Seharusnya bukan aku. Seharusnya bukan aku," adalah yang sering berputar di sarang pikiran negatif itu.
Awalnya aku tidak bisa berhenti membayangkannya. Hingga akhirnya, beberapa acara berjalan dengan aku dan orang-orang pemberani itu melalui segala takut juga cemas kami bersama. Ternyata semua rencana satu per satu terlaksana. Ketakutan yang masih terasa ternyata bisa menguap begitu saja sementara, sambil kami menjalankan acara. Ternyata hal semacam itu bisa terjadi.
Kadang aku merasa heran dan penasaran bagaimana orang-orang ada yang begitu menginginkan jabatan menjadi pemimpin. Mungkin memang karena imbalan, kekuasaan, ke-lebih-mudah-an, pengalaman, bahkan pengabdian. Aku tidak tahu apakah para pemimpin negeri ini juga ada yang mengalami ketakutan sepertiku, tapi mungkin beberapa tidak sebab dana bansos rakyat saja bisa-bisanya dikorupsi. Maksudku, dengan menjadi pemimpin, apa yang seharusnya dicari? Bukankah tanggung jawab besar yang ada sudah cukup menantang (atau bahkan menakuti) diri?
"Ya nanti kalau kamu jadi ketua, kamu ubah sistem itu jadi lebih baik."
Aku melihat ke belakang. Saat aku menjadi staf dan ingin mengubah sistem atau sesuatu yang menurutku kurang, aku tidak begitu punya kuasa untuk itu. Aku bisa saja memberi kritik saran pada ketuaku, tapi masalah waktu, beberapa masukan tinggal jadi bahan evaluasi saja dan timbullah angan memperbaikinya di masa depan. Timbullah angan menjadi pemimpin. Namun, beberapa masukan dan angan memang mudah saja disampaikan. Saat tiba waktunya bisa eksekusi, ternyata tidak semudah itu ferguso. Timbullah kecemasan sebagai pemimpin.
Sempat tiba waktu aku berpikir hal-hal seperti 'apakah jadi staf saja ya selamanya', 'apakah tak usah menikah saja ya biar tak menambah urusan dengan orang lain'. Urusan memimpin diri sendiri saja masih harus banyak belajar, apalagi memimpin orang banyak sambil masih mengenal personal mereka seiring waktu. Barangkali memang itulah sulitnya manajemen tim dan skill abad 21 termasuk di dalamnya kemampuan kolaborasi dan komunikasi yang baik. Barangkali juga makanya ada nasihat semacam: ga usah pacaran kalau belum "selesai" dengan diri sendiri.
Bicara tentang pemimpin, aku juga teringat dengan ayat di agamaku yang ini:
Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.
-Q.S. Al-An'am ayat 165
Wah, kalau sudah bawa ayat gini, aku ga bisa sosoan menafsirkannya semauku. Namun, sungguh, ayat itu kucantumkan karena itulah yang membuatku menyadari apa yang kurang sehingga muncul ketakutan. Setelah membaca ini dan ini, kusadari memang pemimpin itu butuh dan harus dilandasi ilmu pengetahuan, ga bisa asal karena udah dipilih dan dipercaya. Jadi, aku yang takut, cemas, tidak percaya diri, barangkali memang karena kurang ilmu. Sebagai pemimpin, sepertinya menimba ilmunya memang ga bisa ya dari teori saja? Istilahnya kudu ada learning-by-doing, baik dalam memimpin orang lain dan diri sendiri. Makanya, takut-cemasnya dihadapi, dikontrol, biar softskill kepemimpinannya dikit-dikit bisa ke-unlocked ya, diri.
Tentang pemimpin, kumaknai sebagai orang yang berani mengambil tanggung jawab dan memegang komitmen. Makin ke sini, aku makin mengagumi orang-orang pemberani itu. Makin ke sini, aku makin hati-hati menerima tanggung jawab dari orang-orang yang percaya padaku. Tampak sulit sih memang, tapi dengan satu saja tujuan kuat di awal bisa membuat diri bertahan, entah bagaimana nanti kesulitan pasti terlewati juga. Pemimpin dengan niat baik dan belajar bersama orang banyak, bukan mencari pembenaran dari yang buruk dan merugikan khalayak.
Makin banyak tanggungan orangnya, menjadi pemimpin bagiku masih begitu menakutkan. Namun, jika selanjutnya memang ada panggilan hati yang meyakinkan, menurutku setiap orang akan bergerak dan mengambil sendiri aksi yang diperlukan, menjadi pemimpin sekalipun. Kalaupun tidak, bukan berarti sama sekali tidak peduli, tapi mungkin ada tujuan, jalan, bahkan kesempatan lain yang memerlukan perjuangan berbeda dan caranya bukan dengan memimpin orang lain.
Kalau menurutmu bagaimana?
#30haribercerita
#30hbc21
#30hbc2114
Selasa, 07 Desember 2021
Dreamies
| Credit: @NCTsmtown_DREAM |
Selera musikku cenderung dinamis alias musiman.
Pertengahan tahun 2021 menjadi waktu transisi aku mulai menggandrungi genre,
penyanyi, pun grup baru. Dari mulanya 2 lagu saja, sampai saat ini aku sudah
lebih banyak mendengarkan lagu-lagu mereka yang lain bahkan ber-fangirling lebih
jauh lagi. Dari mulanya menyenangi 1 subunit saja, sekarang dapat kukatakan aku
adalah bagian dari fans kingdom mereka yang disebut sebagai
NCTzen.
Yap, sampai sekarang aku mendengarkan lagu-lagu
NCT atau Neo Crocodile Culture Technology. Boy group ini punya konsep grup yang menarik, tapi
postingan ini ga akan menerangkannya secara detail. Singkatnya, mereka punya 3
subunit grup. Salah satunya dan yang menjadi pintu gerbang aku
menyukai seluruhnya adalah subunit NCT Dream atau selanjutnya dalam postingan
ini kusebut sebagai Dreamies.
Album "Hello Future" yang dirilis
Dreamies di pertengahan tahun ini bertemakan hubungan diri di masa sekarang
dengan diri di masa depan. Sebagai pencinta film time travel, aku
jadi tertarik. Di album itu, awalnya aku hanya mendengarkan lagu
"Hello Future" dan "Life is Still Going On" dari
rekomendasi kawan-kawanku; terima kasih, Chana, Lifi:)
Bercerita tentang NCT terutama Dreamies, aku
tidak bisa tidak merekomendasikan "Life is Still Going On". Jauh
6 bulan lalu saat aku masih biasa saja dengan NCT, aku sudah sangat menyenangi
lagu itu. Bahkan jika aku akhirnya tak menjadi NCTzen, aku mungkin tetap takkan
mengeluarkan lagu itu dari playlist andalan. Kurekomendasikan
siapapun menghayati liriknya saja dulu sebab dari liriknya pun aku akhirnya
mengapresiasi NCT lebih dalam lagi.
You might stumble a little to find your own rhythm
You might flow for a while, you might go back a long way
You just have to enjoy it, in the end, you just have *to be* happy
-NCT Dream, "Life is Still Going On"
Aku lebih berani memulai semester baruku dengan
menghayati larik terakhir dari lirik tersebut. Sebelumnya, setelah beberapa
kali mendengarkannya, akhirnya aku bisa merapikan emosi-emosi negatif yang
meluap berantakan. Disambung dengan emosi-emosi semangat dari lagu NCT yang
lain, aku menghadapi naik turun dinamika hari-hari. Seberapa banyak aku
mendengarkan NCT (sekaligus rekomendasi lagu untukmu) bisa dilihat dari
lagu-lagu paling sering kuputar selama 6 bulan terakhir di bawah ini:
Selain lagu, bagaimana aku memaknai mereka
sebagai idol juga membuatku bertahan sebagai NCTzen. Seperti
beberapa penggemar, aku pun pernah membayangkan hal-hal yang tampak
menyenangkan bersama NCT lalu senyum-senyum sendiri alias halu. Sebenarnya
itu tidak terjadi begitu saja. Aku melakukannya sebagai bentuk harap dan
motivasi, seperti 'ayo semangat belajar biar bisa kuliah di Korea dan ketemu
Dreamies', 'ayo semangat kerja biar bisa menghasilkan uang banyak dan nonton
konser NCT langsung', 'ayo semangat nabung biar bisa ikut fanmeeting lalu
meminta Chenle dan Haechan bernyanyi bersama', hingga 'ayo semangat hidup biar
bisa mewujudkan itu semua'.
Aamiin.
Namun, beberapa ke-halu-an tak selalu
menyenangkan karena yaa mereka sebagai idola tetaplah manusia yang punya
privasinya sendiri. Setelah aku saling bercerita pada kawanku seorang NCTzen
senior (halo, Lifi!) aku jadi punya pandangan baru tentang bagaimana bisa
mengidolakan Dreamies begitu lama: menganggapnya sebagai kawan seperjuangan.
Like idol, like fan.
Usia member-member Dreamies yang sebayaku
membuatku (entah kenapa) lebih cepat berempati pada mereka. Saat capek ngerjain
tugas dikit, mengingat Lee Haechan yang masuk NCT semua subunit dengan
serentetan jadwal padat sepanjang tahun, pasti ia capek juga. Saat capek belajar,
mengingat Mark Lee dengan tuntutan menghafal lagu dan koreografi di 4 grup
berbeda yang luar biasa banyak, pasti ia capek juga. Belum lagi bila sakit dan
membayangkan mereka harus hiatus sendirian, pasti mereka berjuang pulih juga.
Tentu saja itu bukan bentuk perbandingan diri sampai insecure,
tetapi mengingatkan hakikat diri tak sedang berjuang sendirian supaya lebih
merasa secure. Pikiran sesederhana itu beberapa kali bekerja baik
padaku.
Jika hal yang membuatku bersyukur tahun ini
harus kucatat, keputusan mengidolakan Dreamies menjadi salah satunya. Selain bersyukur
bisa "menemukan" lagu-lagu mereka, kutemukan pula makna menikmati
hari-hari dan mempertahankannya. Hingga apapun yang akan terjadi di masa depan,
aku tetap punya alasan untuk bangun, bersyukur, dan mencintai apa-apa yang
masih kupunya.
I'll still love you even in the future and beyond.
-NCT Dream, "Hello Future"
#30haribercerita
#30hbc21
#30hbc21idola
#30hbc2113