Bukan Mengasihani tapi Menyemangati
Lulus dari tahun akhir sekolah, bukan berarti tidak lepas dari banyak ujian. Akhir-akhir ini, atmosfer kehidupanku sedang "ujian" banget. Lebih tepatnya ujian-ujian masuk perguruan tinggi. Baru beberapa minggu ujian, sudah keluar pengumuman hasil ujian. Baru beberapa minggu ujian, sudah ada saja jadwal ujian lain. Atmosfer deg-degan makin pekat terasa. Berbicara dan chattingan dengan kawan pun topiknya tidak jauh dari ujian masuk perguruan tinggi. Kata-kata harapan, doa, semangat menjadi hal yang biasa kutulis dan kubaca akhir-akhir ini.
Sebagai kawan, dalam proses menghadapi berbagai ujian, sudah selayaknya saling mendukung. Hingga menjelang atau seusai pengumuman hasil ujian tiba, masih juga sama. Malah lebih intens dengan doa-doa. "Doakan aku ya" menjadi kata-kata penutup yang lazim. Aku juga tidak jarang berbagi sisi lain dari masing-masing kehidupan dengan kawanku, yang membuat kami berjuang diterima di perguruan tinggi yang kami dambakan. Memang interaksi sosial sekaligus menjadi sarana belajar hidup. Dari kisah-kisah mereka, aku jadi makin terbuka dan teringat lagi petuah sederhana tentang hidup.
"Apapun kondisinya, kita memang berhak berusaha mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun, jangan sampai lupa dengan bersyukur. Sebab jika di atas langit masih ada langit, maka berlaku juga sebaliknya. Masih ada orang yang ingin berada di posisi kita."
Jika mengetahui ada kawan yang keadaannya kurang beruntung, muncul saja rasa iba dalam hati. Namun, kalau aku menjadi dia, aku tidak sudi dikasihani begitu saja. Sebab aku juga masih bisa berusaha, sama-sama berjuang mendapat kehidupan yang lebih baik. Apalagi kami sedang berada di proses yang sama untuk mendapatkan perguruan tinggi impian. Untuk apa membanding-bandingkan.
"Sebagai kawan dan manusia, daripada mengasihani, aku lebih memilih untuk menyemangatinya."
Dalam konteks semangat-menyemangati ini, aku berusaha berhati-hati agar tidak menjadi toxic postivity. Menurut artikel yang pernah kubaca, ketika menghadapi seseorang yang sedang down, tidak sepantasnya kita langsung mengucapkan kata-kata penyemangat secara gamblang. Sebab hal tersebut tidak baik untuk kesehatan mentalnya. Bisa jadi bukan energi positif yang kita berikan, tapi malah toxic atau racun bagi orang lain. Sudah ada penelitian ilmiah tentang hal ini.
Jadi, bersimpati pada seseorang itu baik, tapi alangkah jauh lebih baik jika dibarengi dengan empati. Kalau simpati itu sebatas merasa kasihan atau peduli, kalau empati itu mampu memahami dan menempatkan diri sebagai orang lain. Selain itu, mau bersimpati atau berempati, jangan dilupakan untuk tidak menjadi pribadi "racun" yang tidak melihat perasaan orang lain. Sebab apa yang kita tanam juga menjadi apa yang kita tuai, bukan? Semoga menjadi pengingat untukku dan menjadi manfaat untukmu.
Jadi, bersimpati pada seseorang itu baik, tapi alangkah jauh lebih baik jika dibarengi dengan empati. Kalau simpati itu sebatas merasa kasihan atau peduli, kalau empati itu mampu memahami dan menempatkan diri sebagai orang lain. Selain itu, mau bersimpati atau berempati, jangan dilupakan untuk tidak menjadi pribadi "racun" yang tidak melihat perasaan orang lain. Sebab apa yang kita tanam juga menjadi apa yang kita tuai, bukan? Semoga menjadi pengingat untukku dan menjadi manfaat untukmu.